Serayu Tak Kembali


Sebelum matahari tepat berada di atas kepala, aku sudah tiba. Masih seperti dua tahun lalu, Stasiun biasa-biasa saja. Tak ada perubahan selain wajah-wajah calon penumpangnya. Setelah memeriksakan tiket, aku duduk di ruang tunggu. Menunggu Serayu dari Jakarta singgah di kotaku.
Bukan perceraian apalagi sudah tak cinta, melainkan kondisi ekonomi yang kian hari bertambah sulit -- Hutang ke warung menggunung, tetangga mencibir nyaring, belum lagi orangtuaku ikut menanggung malu dan bingung -- maka untuk menyelamatkan hati, kita memilih untuk berpisah sejenak. Kau dan putri, aku izinkan pulang ke rumah orangtuamu. Sedang aku tetap di sini, di kota ini. Berjuang mewujudkan impian kita yang tertunda.
Aroma perpisahan masih menyengat pernafasan. Di Stasiun, kepergian adalah ditinggalkan atau meninggalkan. Sedang kedatangan adalah pertemuan. Namun ada kepergian yang tidak pernah kembali.
“Kalau sudah ada rezeki, Ayah cepet nyusul ya....” Suara lembut istriku kembali terdengar. Suara yang selama dua tahun ini hanya aku dengar lewat telepon.
Kami memang tak pernah putus komunikasi. Bahkan bercinta pun masih kami lakukan hampir setiap malam. Jangan tanya bagaimana caranya, yang pasti bercinta hanya dengan suara pun sedikit mampu membuat kerinduan luruh. Dosa, aku tak bisa menyebutnya dosa. Bahkan jika ada yang menyebut bercinta dengan istri lewat suara sebuah dosa pun aku tak peduli. Bagiku, itu lebih baik ketimbang menyerahkan tubuh pada selingkuh.
Aku mengangguk. Tersenyum meski kecut. Sebenarnya aku sangat tak mengharapkan ini. Bagaimana bisa aku hidup tanpa istri dan putriku yang sedang lucu-lucunya.
Dengan kerudung biru, wajah tirusnya semakin terlihat kurus. Ingin sekali aku menjerit, memaki diri sendiri. Namun senyumnya segera meneduhkan hati. “Tapi, yang terpenting hutang-hutang harus dilunasi dulu. Kasihan ibu sama bapak jika harus terbebani oleh hutang-hutang kita,” katanya kembali. Kini nadanya sedikit memelas.
“Iya, tapi Nda sama Hawa lebih penting,” Istriku tersenyum. Dia selalu bisa merasakan ketulusanku.
Kualihkan pandangan pada wajah polos putriku. “Hawa..” ku sebut namanya. Langsung dari hati. Ku cium pipinya. Dia tak menjawab, tersenyum pun tidak. Namun tatapnya yang senja seolah bertanya, ”Ayah kok tidak ikut?" Ah, sudut mata terasa hangat, hati terasa perih. Sebisa mungkin aku bertahan agar tak menangis.
Kembali kecup keningnya. Dia balas dengan tatapan, lebih dalam. Bagai pisau maha tajam. Menghujam tepat di dada. Mengiris-iris hati menjadi serpihan kecil. Sementara airmata terus menggedor-gedor kelopak mata. Sebagian berhasil merembes dari sudutnya. “Hawa jangan nakal sama Mama di sana ya,” kataku, menahan perih dengan senyuman termanis.
Lagi-lagi putriku hanya menjawab dengan tatapan dalam. Sumpah, sakit sekali hati ini ditatap seperti itu. Aku merasa jadi Ayah paling gagal, tidak bisa membahagiakan anak dan istri. “O Gustii..” hatiku kembali menjerit.
“Sabar, yaah. Suatu saat nanti hidup kita pasti berubah. Dan kita tidak akan pernah terpisah lagi.” Istriku coba menghibur. Memberi kekuatan dengan genggaman dan tatapan.
“Ayah nanis (nangis),” tiba-tiba putriku berkata dengan suara cadelnya. Dan, tatapannya itu, ya Allaah...membuatku tak kuasa untuk tidak memeluknya. Air mata tumpah di kerudung merah mudanya.
“O gusti... suami dan ayah macam apa aku ini?” Hati menjerit, tertindih perih.
Memang bukan selamanya. Namun, perpisahan setelah tiga tahun bersama dalam tawa dan air mata tetap bukan hal mudah. Jika hanya pulang kampung biasa, bukan masalah. Namun, sebab dari perpisahan inilah yang membuat hati hancur. Dan akulah satu-satunya orang yang patut disalahkan. Sebagai suami sekaligus ayah, belum mampu membahagiakan anak dan istri. Bahkan hanya untuk mencukupi kebutuhan perutnya pun terkadang harus berhutang.

***

Sebenarnya, kami sangat harmonis bahkan bisa dibilang romantis. Selama tiga tahun bersama, tak pernah sedikit pun bertengkar. Andai ada beda pandangan dalam suatu hal, selalu dibicarakan dengan santai, kadang sambil berciuman. Kami pun sebagaimana layaknya orang pacaran. Makan tidak makan asal bercinta. Bisa dibilang bercinta hampir tiap malam, adalah salah satu cara kami untuk mengokohkan ikatan suci pernikahan.
Justru masalah datang dari orangtuaku. Mungkin mereka lelah melihat kondisi kami yang serba kekurangan. Bahkan, andai tidak menumpang sama mereka, mungkin kami tinggal di kolong jembatan. Kelaparan. Mungkin karena lelah melihat kondisi kami itulah, tanpa sadar mereka sering berucap dan bersikap yang membuat hati kami tersakiti.
Sementara aku selalu memilih diam karena sadar kondisi kami memang memprihatinkan. Utang ke warung menggunung. Entah kapan bisa membayar. Tentu saja itu membuat orangtuaku semakin risih sekaligus malu. Setiap hari pendengaran disiksa hinaan, hati bertahan dari caci. Bahkan paman, bibi dan sodara yang lain pun bukan membela, malah membuat cibiran semakin nyaring. Dan semua karena ketidakmampuanku menjadi anak, suami sekaligus ayah.

***

Serayu dari Jakarta tujuan akhir Purwokerto sebentar lagi tiba. Sementara hati ini belum rela melepas anak dan istri. Bukan, bukan berati aku tak membolehkan anak dan istri tinggal bersama orangtuanya, tapi kondisi mertuaku pun tak lebih beruntung. Rumah yang ditempati mereka selama ini, rumah kontrakan. Itupun ditempati bersama kakak ipar dan tiga orang anaknya. Bisa dibayangkan bagaimana penuhnya rumah itu. Ditambah anak dan istriku. Semakin sesak saja. Anakku nanti tidur di mana? apakah ada tempat tidur atau ah, semua pikiran buruk semakin membuat aku tak tega untuk melepasnya. Namun, jika tetap tinggal serumah dengan orangtuaku pun hanya akan menambah beban bathin istriku. Detak demi detik di Stasiun ini aku nikmati dengan rasa sedih, waswas sekaligus takut. Takut perpisahan tiada sua kembali.
”Sebenarnya tiada perpisahan bagi sepasang kekasih dengan cinta dalam hati. Bahkan jarak pun menambah erat ikatan jiwa.” Istriku mengutip apa yang pernah aku katakan padanya. Dulu, ketika awal kami mengikat janji. Saling setia sampai mati.
Aku mencoba tersenyum. Jelas guratan susah di wajahnya. Sangat beda dengan ketika awal kami bersama. Namun, dia tetap yang tercantik di mataku. Keindahan akhlak dan kelembutan bahasa membuat matanya selalu bercahaya dan bibirnya selembut ice cream.

Pandangan beralih ke wajah putriku. Ternyata sedang menatapku. ”Enong ayah,” katanya manja. Seolah tahu ini adalah detik-detik di mana dia tak’ kan lagi bisa bermanja padaku. Ku peluk dia. Air mata kembali tumpah. Bagai lelehan lahar. Hangat. Mengabarkan kesepian yang sebentar lagi menindih hati.
“Papapa (kenapa)?” putriku bertanya dengan suara cadelnya. Begitulah, jika ada yang menangis, pasti dia bertanya. Padahal jika dijawab pun pasti 5 detik kemudian bertanya kembali.
“Nggakapa-apa, ”jawabku seraya mempererat pelukan.
“Ayah hanya sayang sama Hawa,” ucapku pelan ditelinganya.
“Emmuaach ...,”dia mencium pipiku. Terasa sampai ke hati. Meredakan air mata.

Lalu dia menatap istriku. “Mama nggak disayang?” istriku mendekatkan wajah.
“Enna (enggak),”jawabnya. Kami tertawa. Lupa bahwa sebentar lagi akan berpisah. Dan angin pun membawa mereka pergi. Menguap bersamaan dengan senyap yang menyelinap dalam jiwa.

***

Sebenarnya cita-citaku ingin menjadi penulis. Namun latar belakang pendidikan hanya lulusan SD rupanya sangat kurang mendukung cita-citaku. Akan tetapi aku tak pernah putus asa, atau tepatnya egois, hingga lebih mementingkan cita-cita ketimbang kebutuhan anak dan istri.
Selama ini aku bekerja sebagai penjaga warnet. Sengaja aku pilih pekerjaan itu agar sambil bekerja aku juga bisa sambil belajar menulis. Menggunakan fasilitas computer yang ada. Aku juga dapat dengan mudah mendonwload ebook untuk menambah wawasan, karena jika harus membeli buku tak ada jatah. Namun sayang, upah dari menjaga warnet sangatlah kurang untuk membiaya hidup kami bertiga. Sehingga semakin hari kehidupan kami semakin sulit.
Sepeninggal anak dan istri, aku berpikir keras. Bagaimana caranya supaya hidup cepat berubah. Jika hanya mengandalkan upah dari menjaga warnet, kapan aku bisa kembali berkumpul dengan anak istri. Namun, jika harus berhenti, tak mungkin, karena pekerjaan ini mendukung hobiku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengamen. Dari pagi hingga sore, aku mengamen dor to dor. Sedang dari sore hingga malam hari, aku bekerja sebagai penjaga warnet. Dan, di sela-sela pekerjaan itulah aku menulis.

Kerinduan dan kepahitan hidup seolah energi maha dahsyat. Membangkitkan semangat dan kemampuan yang selama ini terpendam. Kerja kerasku tak sia-sia. Satu persatu, cerpenku dimuat di media. Bahkan yang lebih membahagiakan dan membanggakan lagi, salah satu novelku terbit di salah satu penerbit besar. Royaltinya cukup besar. Hingga aku bisa membeli sebuah laptop. Dan melunasi semua hutang-hutang seperti pesan istriku.
Semangatku menggila. Seperti orang kerasukan, siang malam kerjaku hanya menulis dan menulis. Yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana caranya supaya cepat berkumpul kembali dengan anak dan istri. Juga bagaimana caranya agar diakui sebagai penulis, agar tak ada lagi yang meremehkan diriku.
Saking sibuknya, aku lupa memerhatikan kesehatan. Tubuh semakin kurus. Guratan hitam di bawah kelopak mata kian kentara. Tapi tak peduli, karena kini setiap aku menulis novel atau cerpen, selalu diterima oleh penerbit atau media. Kini namaku cukup dikenal sebagai penulis. Dan selain mendapat royalti, aku juga mendapat rezeki dari mereka yang ingin belajar menulis.
“Sudah waktunya aku menemui anak istri,” gumamku seraya merebahkan tubuh. Tubuh terasa sangat lelah. Bukan, bukan oleh karena selama ini aku bekerja hampir tanpa istirahat. Melainkan lelah menahan rindu dan cinta yang semakin hari kian panas membakar dada.

***

Adakah madu termanis bagi sepasang kekasih selain saling berpelukan setelah lama terpisahkan atau penantian panjang hanyalah racun serangga yang direguk sedikit demi sedikit hingga kematian datang?
Istriku sangat bahagia ketika aku mengabarkan bahwa hari ini aku akan menjemputnya kembali kepangkuanku. Dia berjanji akan menyambut dengan berlaksa kehangatan yang selama ini beku di antara jarak yang membentang.
Kereta Serayu dari Jakarta singgah di kotaku. Tepat di depanku. Segera aku naik. Berjalan menyusuri gerbong dengan senyum mengembang. Barang bawaan aku letakan di atas tempat biasa para penumpang menyimpan barang. Lalu duduk. Pandangan meneliti wajah-wajah penumpang. Rata-rata menyiratkan kebahagiaan. Mungkin mereka sama denganku. Hendak mengunjungi keluarga yang sudah sangat lama tiada bersua. Ah, ku hela nafas panjang.

Kereta berjalan pelan-cepat dan makin cepat, seolah mengerti kalau aku memang sudah tidak kuasa lagi menahan kerinduan. Ku sandarkan kepala pada kaca jendela. Di luar gerimis halus meliuk-liuk. Ac membuat udara dalam gerbong semakin terasa dingin. Ku rekatkan kerah jaket.
Detak berjalan, detik berlalu. Beberapa kali kereta berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penumpang di Stasiun yang dilewati. Sementara di luar hujan semakin deras. Mataku terasa berat. Andai boleh merokok dalam kereta, pasti sudah habis paling tidak enam batang sejak kereta berangkat tadi. Penumpang lain banyak yang terlelap. Suasana gerbong makin senyap. Aku pun terlelap. Bahkan ketika samar-samar terdengar jeritan, aku mengira itu tak nyata. Mungkin hanya sisa prosa dalam benak yang berontak ingin aku tuangkan menjadi tulisan.
Kereta berhenti. Mataku terbuka. Hening. Tak terdengar suara apa pun. Bahkan desah nafas pun seolah lenyap. Aku mengintip melalui kaca jendela yang sedikit lembap ‘Stasiun Besar Kroya’ sangat jelas terbaca. Aku menarik nafas lega. Tersenyum bahagia.
Segera aku ambil barang bawaan. Beberapa penumpang telah lebih dulu turun. Namun ada yang janggal, wajah mereka pucat, tanpa semangat, sedingin mayat.
Hatiku semakin bertanya-tanya ketika menginjakkan kaki di lantai stasiun yang dingin. Keheningan menyambut. Senyap menyelinap dalam benak. Padahal banyak orang sebagaimana layaknya di Stasiun kereta. Kenapa tak ada bersuara? Semua tatapan terlihat hampa. Namun semua lindap ketika renjana menyelinap dalam jiwa. Cepat aku melangkah keluar.
Langit tidak cerah, namun tidak pula bisa dikatakan mendung. Deretan becak berjejer di tempat parkir. Para pengemudinya duduk dengan wajah tanpa ekspresi. Sepertinya memang sedang malas narik, maka aku urungkan saja niat untuk naik. Aku memutuskan untuk jalan kaki saja karena kebetulan, tempat tinggal mertuaku memang tak jauh dari Stasiun.
“Duh, kenapa tak jemput ayah si..” lirih. Padahal aku sudah membayangkan kalau anak dan istriku sudah menanti kedatanganku di Stasiun.
Keluar dari halaman Stasiun, aku berjalan sambil menenteng dua tas besar berisi baju-baju untuk anak dan istriku. Melewati Pasar Kroya. Lagi-lagi Pasar pun sangat sepi. Aku menyeberang. Kendaraan sangat lengang. Langit meredup. Mungkin akan turun hujan. Ku percepat langkah. Setengah berlari menuju sebuah gang di samping mesjid. Hingga akhirnya sampai di depan sebuah rumah bercat biru. Pintu terbuka. Sayup terdengar suara tangis dari dalam.
Tanpa ba bi bu lagi, segera aku masuk sambil mengucap salam. Tak ada yang menjawab. Di ruang tengah, istriku sedang menangis sambil memeluk putriku. Aku sedikit heran. Segera ku hampiri, “Ada apa, Nda?” tanyaku sambil berusaha memeluknya. Namun yang ku peluk hanya angin. Pada layar tv terbaca sebuah judul berita tentang kecelakaan kereta yang menewaskan hampir semua penumpang.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Opening Novel Misteri

Jadi Penulis tapi Malas. Mati Sajaa...

Merancang Konflik Sebuah Novel