Lingerie (Dosa Terindah)
Tekadku sudah bulat, yang penting kami
saling cinta. Apa peduli orang dengan hidupku. Toh, aku kelaparan, aku susah,
mereka hanya menonton. Aku percaya, Mas Syam pasti bisa berlaku adil baik kepada
istri pertama, pun padaku. Dan bukankah poligami
dianjurkan oleh agama. Istri pertama sakit hati, itu pasti. Tapi jika melihat
alasan kenapa Mas Syam memilih untuk berpoligami--selain cinta, istrinya yang
sakit-sakitan sudah tak mampu lagi mencukupi kebutuhan biologis -- sudah pasti
sangat tepat.
Dan, sejak senja tak cantik lagi, sejak
itu pula aku mematut diri di depan cermin. Lingerie menjadi
pilihan malam ini.
“Miliki lagi aku malam ini, Mas, ”Birahi berbisik
lirih. Lalu tersenyum menatap pantulan tubuh pada cermin besar.
Lingerie ini sungguh membuat tubuhku semakin terlihat
seksi. Bahannya yang transparan, menyiluetkan lekuk tubuh. Menggairahkan.
Bagian lehernya yang rendah membuat hampir setengah payudaraku terlihat jelas.
Belahannya sangat memesona. Apalagi jika memandang ke bawah, paha putih mulus
berbulu lembut mampu menghipnotis mata pria agar tak beranjak dari sana.
Ini kali kedua aku memakainya setelah
bulan lalu di kamar hotel yang sama. Bukan hotel mewah memang, namun di mana
pun, asalkan bersamanya, maka di sanalah surga. Dosa? Tentu saja. Kami memang
belum menikah, tapi Inilah dosa terindah yang pernah aku lakukan. Dan aku tak’
kan pernah menyesal menyerahkan semesta tubuh untuk dimiliki Mas Syam.
Jarum jam terus berthowaf. Dia sangat patuh pada
kewajiban. Apa pun yang diperbuat manusia tak bisa memperlambat atau
mempercepat langkahnya. Detaknya seirama dengan degup jantungku. Tenang, tetap
dan tenteram setiap aku mengingatnya.
Sudah
jam tujuh malam, Mas Syam belum memberi kabar. Aku ambil Handphone dalam tas
kecil di meja rias. Namun, baru saja
memegangnya, layar Handphone menyala
lebih dulu. Adikku menelepon,” Pulang, Mbak. Sakit ibu kumat dan harus segera
di bawa ke rumah sakit, ”suaranya terdengar waswas.
Deg! Dadaku serasa digedor benda keras.
Tubuhku seketika lemas ketika terbayang wajah Ibu. Pucat pasi dengan guratan
hitam di bawah kelopak mata. Sejak dicerai ayah, ibu memang harus bolak-balik
ke rumah sakit. Kelenjar getah bening yang menggerogoti tubuhnya semakin hari
kian parah. Sementara aku di sini malah melakukan apa yang jadi penyebab ibu
sakit.
Bayangan Bu Suci –istri Mas Syam—ikut
hadir. Dadaku disesaki rasa bersalah. Kondisinya hampir sama dengan ibu. Hanya
penyakit juga kondisi suami yang beda. Ayah malah meninggalkan ibu, pergi
dengan wanita lain, ketika sakit ibu kian parah. Sedang Mas Syam, tetap setia
menjaga dan merawat istrinya. Meskipun kini ada aku di hatinya, namun kesetiaan
pada sang istri tak terbantahkan. Itulah yang awalnya menjadi sebab aku begitu simpatik padanya. Namun, itu juga
yang menyebabkan hingga kini tak ada seorang pun yang tahu hubungan aku dengan
pemilik toko Emas terbesar di kotaku ini. Bisa dicap wanita tak punya hati
andai orang tahu hubungan gelap kami.
Lingerie sedikit terangkat ketika aku
menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Bulu-bulu lembut di paha seolah tak
kuasa menahan rindu belaian mesra Mas Syam. Ingatan terbang, mengeja kenangan
saat awal mula dekat dengan Mas Syam.
“Pulang pergi sendirian, ndak ada yang
nganterin, Ca?” tanya Mas Syam suatu sore ketika aku mau pulang dari toko. Ya,
aku memang pegawainya. Menjadi pelayan di toko Emas miliknya. Namun, baru kali
ini Mas Syam yang awalnya aku panggil Bapak menyapa disertai senyum ramah.
“Kenapa ndak mencari pengawal pribadi
aja,”katanya lagi suatu hari ketika aku baru istirahat makan siang. Senyumnya
menggetarkan hati.
“Belum ke pikir, Pak. Saat ini saya ingin
fokus dulu merawat ibu dan adik,” aku mencoba tersenyum menutupi perasaan yang
tiba-tiba saja tidak menentu.
Mas Syam mangut-mangut. Seolah mengerti
dengan kondisiku. “Panggil Mas saja biar lebih enak, Ca," dia mengakrabkan
diri.
Dan anehnya aku tak bisa menolak ketika
Mas Syam berniat mengantar pulang dengan Mercy kesayangannya. Selain sore itu
gerimis mulai turun, juga takut Mas Syam tersinggung jika aku menolak niat
baiknya. Aku percaya, Mas Syam bukan seorang pria genit. Dia bisa menjaga
kehormatannya sebagai bos dan pria dewasa. Itu yang membuat karyawan yang
semuanya perempuan betah bekerja padanya. Dan untungnya tak seorang pun melihat
ketika aku naik ke mobilnya.
Dalam perjalanan, Mas Syam hanya
mangut-mangut ketika aku menceritakan kenapa aku selalu tak peduli ketika ada
laki-laki coba mendekati. Bukannya tidak terpikir untuk segera menikah, apalagi
kini usia sudah 27 tahun, siapa yang ingin jadi perawan tua. Namun, jika cepat
menikah, siapa yang akan menjadi tulang punggung keluarga. Suami? Belum tentu
suamiku kelak bisa mengerti kondisi keluargaku yang semenjak ditinggalkan ayah
entah ke mana, kondisi ekonomi kami morat-marit.
Sejak saat itu, makin sering Mas Syam mengantarku pulang. Tentu saja
sembunyi-sembunyi. Meskipun tidak tiap hari. Pernah juga Mas Syam memintaku
untuk menemaninya menghadiri sebuah acara. Aku
semakin mengaguminya. Bersamanya aku merasa menjadi wanita terhormat.
Tak pernah sekalipun bersikap kurang ajar walau hanya mencolek pipi atau pura-pura
beradu tubuh ketika kami berjalan bergandengan. Mas Syam pun belum pernah
sekali pun bertandang ke rumah, padahal untuk sekedar basa-basi, aku sering
mengajaknya mampir.
“Nanti saja jika sudah waktunya, ”katanya
seraya tertawa renyah.
Awalnya aku tak menggubris kata-katanya.
Tapi lama-lama pikiranku mulai terganggu. Senyum dan kedewasaannya menjadi
bunga khayal. Apalagi tak bisa dipungkiri meski usianya hampir menginjak 40
tahun, namun postur tubuh dan wajah Mas Syam bisa dikatakan menawan. Kumis
tipis serta dagu dan pipi yang penuh jambang bekas kerokan, membuatnya semakin terlihat
jantan. Bahkan kata teman-temanku Mas Syam itu pria yang seksi.
Masih lekat dalam ingatan ketika suatu
malam Mas Syam mengirimkan sms,”Maafin Mas, Ca. Malam-malam sms, Mas kangen,”
jantungku seolah jatuh ke perut. Aku baca-baca ulang sms itu. Tetap sama. Tak
ada perubahan bahkan hanya satu huruf. Bahagia dan rasa entah apa membuatku tak
mampu segera membalas sms-nya. Bagaimana tidak, dia yang sedang ada dalam
khayalan seolah tahu aku sedang memikirkannya. Dan mengatakan apa yang aku
rasakan.
Bingung, harus dengan kalimat apa aku
membalas smsnya. Sms kedua pun menyusul, “Tidak perlu dibalas Ca, Mas hanya
mengungkapkan isi hati saja. Entah mengapa, malam ini Mas sangat
membutuhkanmu.” Hatiku semakin tidak karuan. Mas Syam begitu lugas mengutarakan
isi hati.
Aku mulai mengetik, ”Sama, Mas. Ica juga
kangen,” tapi aku hapus lagi. Lalu mengetik kembali, “Malam-malam begini kok
belum tidur, Mas?” kali ini aku putuskan untuk mengirimkannya. Padahal dalam
hatiku bukan kata itu yang dikirim, melainkan sebuah nyanyian cinta yang tumbuh
dengan sengaja saat itu juga. Layar Handphone kembali menyala, “Mas masih di
toko, Ca. Banyak catatan yang harus selesai malam ini supaya besok karyawati
tercinta Mas bisa lebih santai temani Mas mengobrol.” Karyawan kesayangan yang
di maksud pastilah aku. Aku tersenyum bangga sekaligus bahagia.
Aku tak membalasnya. Bukan tak ada kata,
apalagi tidak suka dengan smsnya. Melainkan terlalu banyak kata dalam hati.
Tentang rasa asing namun sangat ku kenali.
Esoknya, aku diajak jalan-jalan oleh Mas
Syam ke Mal. Kami makan, bahkan belanja. Dan tentu saja Mas Syam yang bayar.
Aku merasa tidak enak. Tapi dia segera memotong, ”Sudah jangan dipikirin,
anggap saja hadiah karena selama ini kamu sudah sangat baik dalam bekerja dan
menjadi teman mengobrol Mas,” begitu tulus kata-katanya. Tersirat kasih sayang.
Aku semakin dibuat kagum dan simpatik. Cinta
semakin mekar dengan caranya memperlakukan aku sebagai wanita. Tak pernah
sekali pun ia mencari kesempatan dalam kesempitan. Semua yang ia berikan dan
ucapkan begitu tulus penuh kasih sayang. Dan siapa wanitanya yang tidak terlena
oleh perlakuan seorang pria seperti itu. Apalagi aku yang memang baru
pertama kali sedekat ini dengan seorang
pria.
Hingga pada suatu ketika, senja tak
menampakkan kecantikannya, Mas Syam mengajakku untuk menemaninya makan. Tentu
saja aku tak menolak karena memang aku selalu merasa nyaman ketika bersamanya.
Hujan langsung turun begitu kami masuk mobil. Selama perjalanan, Mas Syam lebih
banyak diam. Wifer tak henti hilir mudik di kaca depan, sebagaimana mataku yang
diam-diam mencuri pandang wajah pria di sampingku. O, alangkah bahagianya jika
punya suami sepertinya.
Tiba di sebuah lobi hotel aku sedikit
kaget. Makan kok ke hotel? Namun, lagi-lagi aku tak mampu menolak untuk turun
dari mobil ketika dia menggenggam jemari begitu mesra. "Yuk!”
Dalam sebuah kamar, Mas Syam memberiku
sebuah kado, ”Mas ingin kamu memakainya,” suaranya mengandung hipnotis.
Dengan hati dag dig dug aku membuka kado
tersebut. “Lingerie!” seru hatiku. Dan entah ilmu pelet apa yang digunakannya
hingga aku mau memakainya.
Maka hujan pun semakin deras. Gemeretapnya
berbaur dengan nafas kami yang berpacu berburu nafsu. Aku tak bisa menolak,
bahkan pasrah ketika Mas Syam dengan hati-hati mencium seluruh tubuh. Aku hanya
bisa menggelinjang, merasakan rasa asing yang baru aku alami. Mas Syam terus
mengayuh dengan sepasang lutut kukuh, dan aku sebagai perahu hanya pasrah
mengikuti arus kayuh, begitu lembut.
Hujan reda, hampir jam sembilan malam.
“Mas Syam ingin kamu jadi istri sah Mas, bersediakah?”
Aku sangat bahagia. Namun ada rasa
bimbang, takut. Ya, namanya juga jadi istri kedua. Sudah pasti tidak bisa
memiliki seutuhnya. Belum lagi perkataan orang. Ah, aku hanya menjawab dengan
merebahkan kepala di dada bidangnya. Mas Syam seolah mengerti apa yang sedang
berkecamuk dalam hatiku. Dengan lembut, dibelainya rambutku hingga ketika
merengkuh untuk kedua kalinya, aku semakin tidak terpaksa menyambutnya.
***
Rabu sore sepulang kerja, semua rekan
kerja yang kebetulan satu sip denganku mengajak untuk menengok Bu Suci di Rumah
sakit. Hati waswas, takut jika Bu Suci sudah mencium kedekatanku dengan
suaminya. Tapi, bukankah ada bagusnya juga karena aku bisa tahu bagaimana
kondisi rumah tangga Mas Syam sebenarnya.
Bu Suci sedang terpejam tenang ketika kami
tiba. Katanya baru saja menjalani cuci darah. Di sampingnya duduk Mas Syam.
Memegang tangan istrinya. Hatiku terbakar. Lebih baik aku pulang saja. Namun
baru saja hendak membuka mulut untuk pamit, Bu Suci membuka matanya. Dan
anehnya tatapannya langsung tertuju padaku.
“Ini yang namanya Ica, Pa?” katanya pelan.
Namun sangat jelas didengar semua yang ada di sana.
Tentu saja aku sangat kaget sekaligus
takut. Hati menduga-duga. Jangan-jangan Bu Suci sudah mengetahui hubunganku
dengan Mas Syam selama ini. Begitu juga Mas Syam, air wajahnya berubah
seketika. Seperti takut, malu atau ah, entah apa. Untungnya Bu Suci kembali
menutup mata.
Lingerie kembali tersingkap ketika aku membalikkan
tubuh. Menyamping. Membuat gumpalan bokongku seolah menantang remasan tangan
nakal. Tatapku menembus kaca jendela. Udara makin terasa dingin. Sudah hampir
jam delapan, mungkin sebentar lagi Mas Syam datang. Aku kembali teringat pada
ibu, bukankah ibu sakit-sakitan awalnya karena ayah selingkuh lantas
ditinggalkan. Tapi aku mencintainya, dan Mas Syam pernah berjanji untuk berlaku
adil. Dia tak’ kan meninggalkan istrinya kecuali dia yang ditinggalkan.
Aku tersenyum. Mas Syam datang. Dadaku
bergetar, tak bisa menahan ketika Lingerie terlepas. Dan Mas Syam begitu
bersemangat menikmati sensasi dosa terindah setelah lelah menguburkan jasad
istrinya di belakang rumah.
Best sports wager of the day | Goldencasino 카지노 카지노 sbobet ทางเข้า sbobet ทางเข้า クイーンカジノ クイーンカジノ 403starxo judi slot review
ReplyDelete