RSPB (Pembakar Semangat Fart II dan III)
v
* Jadilah Orang Terkenal
Siapa tak ingin jadi orang terkenal. Mendapat pujian dan
penghargaan. Anda ingin? Bodoh jika tidak ingin, lagi-lagi munafik jika ada
orang yang berkata bahwa menulis hanya ingin bermanfaat, tidak butuh uang atau
ketenaran namun, iri melihat orang lain lebih terkenal darinya. Jadilah penulis
jujur kawan! Setidaknya jujur pada diri sendiri dulu, dan nikmati ketenaran
dengan hati khatam, dikenang
sepanjang zaman.Tak perlu saya sebut siapa saja penulis yang namanya abadi, dikenang
sepanjang masa karena karyanya yang fenomenal.
Lalu, apakah ada keuntungan menjadi orang terkenal? Tentu
saja. Selain kita akan banyak teman dan saudara, ketenaran juga dapat kita
manfaatkan untuk mempengaruhi orang untuk berbuat baik. Bukankah kita semua
sudah mafhum jika nasehat dari orang yang telah punya nama lebih cepat
diterima? yang tidak boleh itu, tenar dan sombong. Menganggap orang lain bodoh.
Semua yang dilakukan dan dikatakannya tidak boleh dikritik apalagi disalahkan. Maka,
niatkanlah jadi orang terkenal, tetap ramah dan rendah hati
“Tapi
saya takut, kang. Takut jika sudah terkenal menjadi sombong.”
Belum apa-apa kok sudah takut! Berarti Anda memang cendrung
seperti itu nanti. Jangan berpikir negatif dulu dengan apa yang bahkan terlihat
negatif. Berbaik sangka atau berpikirlah positif pada apa yang akan kita alami
nanti. Bayangkanlah Anda bakalan jadi orang terkenal yang rendah hati. Yang
sangat senang berbagi ilmu
Untuk memperkuat niat agar menjadi kenyataan yang baik, mintalah
perlindungan-Nya untuk meneguhkan hati. Capailah ketenaran dengan cara benar
dan halal. Ingat! Jika kita mendapatkan ketenaran dengan cara tidak benar,
apalagi dengan cara memperolok-olok oranglain, Nabi apalagi Tuhan, maka dapat dipastikan setelah terkenal nanti,
akan menjadi arogan, sangat takut kehilangan penggemar, takut tersaingi.
Makanya orang terkenal seperti itu, tak jarang melakukan beragam cara untuk
menjatuhkan orang lain. Hingga jadilah dia budak nafsu. Semoga kita (Saya
khususnya) terhindar dari sifat demikian.
v * Menulislah Untuk Tuhan
Kegagalanmu
tidak pernah terjadi kalau tujuan hidupmu benar sebagaimana titahNya : beriman
dan beramal sholeh. Niat yang benar membuatmu punya etos kerja, bukan etos
hasil. Setiap kepusingan, kerepotan dan kecapean adalah kesuksesanmu sekaligus
kebahagiaanmu.
Adapun
hasilnya pasti: kini dan disini atau investasi nanti dan kelak, dalam bentuk
apapun yang Allah kehendaki. Karena engkau iman dan yakin bahwa Dia mustahil
ingkar janji dan lebih tahu apa yang paling baik buat hidupmu, disini dan disana. Bukankah pula engkau tidak
ingin hidupmu hanya hari ini? Bukankah hidupmu tidak cukup hanya dengan tercukupinya
materi?
Mari
kita renungi dan telisik lagi, terutama untuk apa tujuan hidup kita ini?
“What,
menulis untuk Tuhan! memangnya Tuhan butuh tulisan kita?”
Tidak! Saya tegaskan Tuhan tidak membutuhkan apa-apa dari
kita. Jangankan hanya sebuah tulisan, dengan nyawa kita pun Dia tak butuh. Bagi-Nya,
menciptakan seorang makhluk lebih mudah dari ketika kita sedang menulis sebuah
nama. “Kun Fa Yakun!” Yakinlah. Namun, kenapa saya menyuruh ‘Menulis Untuk
Tuhan?’ Santai, tarik napas dalam dalam, kalau ada kopi, ngopilah dulu. Kita
ngobrol dengan kepala dingin dan tenang.
Begini, maksud saya Menulis untuk Tuhan: meniatkan
menulis untuk melaksanakan perintah-Nya sekaligus menjauhi larangannya. Saling
menasehati pada kebaikan dan saling mengingatkan pada kemungkaran (Amal Ma’ruf
Nahi Mungkar). Hanya itu. Tidak ada indikasi lain. Baik ingin uang atau pun
ketenaran. Dengan begitu, Anda tidak akan terbebani, karena sudah pasti Ikhlas.
Penulis yang ‘Menulis Untuk Tuhan’ tidak akan merasa
rugi, jika karya dicopas orang lain selama tidak disalah gunakan. Mereka bahkan
senang jika banyak orang mencopas dan menyebarkan karya tulisnya karena dengan
begitu, semakin banyak orang dapat mengambil manfaat dari tulisannya
Ciri-ciri mereka yang menulis untuk Tuhan :
I.
Selalu menulis sesuatu yang
mengandung hikmah dan manfaat bagi pembaca, mereka sangat hati-hati dalam
menulis. Tidak ingin karya tulisnya menyakiti hati orang, apalagi menyesatkan
pola pikir pembaca.
II.
Tegas dalam kebenaran. Hitam adalah hitam, dan
putih sudah jelas putih. Tak ada abu-abu. Namun tetap menyampaikan dalam damai.
Dalam berkarya, mereka tidak terpengaruh oleh apa dan siapa. Mereka menulis
bukan untuk menjilat seseorang, atau menjatuhkan nama baik orang lain bahkan
tak ingin juga dia menjadi terkenal.
III.
Mereka yang menulis untuk
Tuhan senantiasa menerima masukan dan kritikan dengan lapang dada. Tak pernah
menganggap dirinya paling benar. Mereka sibuk menyesuaikan diri sendiri dengan
kebaikan yang mereka tulis. Tak ada kesempatan bagi mereka memerhatikan
kejelekan sikap orang lain.
IV.
Mereka yang menulis untuk
Tuhan tidak mengharaf imbalan dari karya tulisannya. Baik itu berupa uang, pun
ketenaran. Bahkan pahala pun tak membuat mereka terpikat.Mereka yakin, Tuhan-lah
yang akan memberi mereka upah. Dan upah dari Tuhan sudah pasti lebih berlimpah
dan berkah karena Tuhan Maha Mengetahui apa yang mereka butuhkan.
Ada banyak contoh di sekitar kita yang benar-benar menulis
untuk Tuhan, mereka tidak berpikir sedikit pun untuk menerbitkan tulisan mereka
dalam bentuk buku dan mendapat royalti, serta dikenal banyak orang. Tapi
lihatlah, terkadang mereka lebih sukses dari mereka yang sudah punya karya Best
Seller, kenapa? Karena itu tadi, Tuhanlah langsung memberi upah kepada mereka.
Maka berbahagialah mereka yang Menulis Untuk
Tuhan.

Keren, Kang. Memotivasi banget. Haturnuhun
ReplyDelete