Sebuah Catatan Tentang Novel "Namaku Hiroko" dan "Kau Bidadari Surgaku"
Apa yang dipikirkan oleh seseorang jika mendengar kata pelacur? Tentulah sesuatu yang berkaitan dengan yang buruk. Pelacur adalah perempuan yang menjual diri, wanita tunasusila. Bahkan terkadang cap pelacur juga disandangkan pada istri-istri simpanan sekalipun mereka tidak menjual diri. Apapun alasan dan tujuan hingga seorang perempuan mendapat cap tersebut, dalam nilai-nilai masyarakat dia tetap salah.
Label buruk yang terlanjur melekat pada seseorang akan serta-merta menyudutkannya dalam pergaulan. Sekalipun masyarakat umum tidak turut menanggung konsekuensi perbuatannya. Tapi, begitulah. Pertobatan pun belum tentu bisa menghapus citra yang ada.
Dalam sastra Indonesia, tidak sedikit novel yang bercerita tentang pelacuran. Di antaranya Namaku Hiroko karangan NH. Dini. Berikut ini saya menulis sedikit ulasan mengenai Namaku Hiroko dan novel Kau Bidadari Surgaku karangan Ade Kurniawan, seorang penulis pendatang baru.
Novel Namaku Hiroko menceritakan tentang gadis Jepang yang berasal dari desa. Ibunya telah meninggal. Namun ibu tirinya membesarkannya penuh cinta. Hiroko memiliki dua orang adik laki-laki seayah. Pamannya mengajar bahasa asing di sebuah perguruan agama.
Hiroko merantau ke kota Kobe untuk mengubah hidup. Dia mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Seiring waktu, gemerlap kota telah menghipnotis Hiroko untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Mulanya dia hanya ingin membeli gaun malam seperti milik bibinya. Namun ketika bertemu Michiko, Hiroko mulai berpikir untuk memiliki pakaian-pakaian dan aksesoris yang mahal.
Untuk mencapai keinginannya, Hiroko berhenti bekerja sebagai pembantu. Kemudian dia menjadi pegawai toko pakaian. Karir melesat dengan cepat. Penghasilannya terus meningkat. Kemudahan dalam hal keuangan juga didapatnya dari pacar-pacarnya, Kishihara Yukio dan Suprapto. Tetapi Hiroko tidak puas. Dia menginginkan uang yang bisa menjamin ketenangannya di masa tua. Dia juga ingin memiliki rumah mewah di kawasan elit seperti milik atasannya.
Ketika mendengar kabaret Teratai mencari penari striptease, Hiroko menyanggupinya. Dia juga tidak menolak melayani lelaki hidung belang selama bayarannya pantas.
Profesi sebagai pegawai toko, penari telanjang, wanita pengibur telah membuat Hiroko bergelimang harta. Dengan mudah dia bisa mengirim uang untuk keluarga dan membantu kerabatnya. Walaupun begitu, Hiroko tidak berhenti sampai di sana. Selain uang dia ingin mendapatkan laki-laki idamannya. Ketika suami sahabatnya, Yoshida Okamura, menunjukkan ketertarikan padanya, Hiroko memberinya harapan. Yoshida memenuhi kriterianya; muda, kaya dan tampan.
Pilihan hidup yang sama juga diambil Marwah, tokoh utama dalam novel Kau Bidadari Surgaku (KBS) karya Kurniawan Al Isyhad. Marwah berasal dari keluarga sederhana di pinggir rel kereta api di Kroya. Dia hidup bersama ibu dan dua orang adik laki-laki seibu. Ayahnya meninggal saat mengetahui kalau Marwah bukan anak kandungnya. Ternyata ibunya telah hamil sebelum menikah.
Marwah merantau ke Jakarta, terlunta-lunta dan menjadi wanita panggilan. Pekerjaan itu dilakukannya dengan senang hati karena darinya dia mendapatkan limpahan materi. Marwah bisa menopang perekonomian keluarga. Di kampung pun dia dikenal sebagai penderma.
Tujuan Marwah hanya satu; menjadi kaya dan dihormati.
Setelah berpindah dari satu laki-laki ke laki-laki lainnya, Marwah seakan menemukan jalan pulang setelah berkenalan dengan Hamzah, seorang guru ngaji. Diam-diam Marwah menyukainya dan mulai meninggalkan dunianya. Dengan dukungan sahabatnya, Marwah mulai rajin sembahyang, mengikuti pengajian dan mengubah penampilannya.
Ketika sahabatnya muncul di berita televisi sebagai perempuan simpanan yang dijadikan alat cuci uang oleh seorang pengusaha yang merangkap ketua partai, Marwah makin mendekat kepada tuhan. Rasa bersalah karena membohongi ibunya terus membayanginya. Dalam sebuah doanya, Marwah bermunajat, “Berikanlah aku jalan keberanian untuk mengakui semua kebusukanku di hadapan ibu, dan selamatkanlah ibu, lindungi hati dan jasadnya dari rasa sakit karena dosaku.” (hal. 260)
Pada akhirnya Hamzah melamar Marwah. Namun usia pernikahan mereka tidak lama. Marwah meninggal akibat penyakit magh kronisnya.
Kebebasan menentukan pilihan hidup
Hiroko meninggalkan pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga saat majikannya sedang hamil tua. Dia bahkan tidak mau menunggu kedatangan penggantinya. Dia tidak mau direpotkan dengan mengurus bayi.
Pergaulan Hiroko dengan teman-temannya di kota Kobe telah mengubahnya 180 derajat. Hiroko yang pemalu dan lugu berubah menjadi berani dan materialistik.
Sejak menjalani hubungan intim pertamanya dengan Sanao, adik majikannya, Hiroko selalu menunggu-nunggu malam berikutnya. Pun ketika dia tidak begitu menyukai suami majikannya yang menghendakinya, Hiroko tetap melayaninya. Bagi Hiroko seks dan uang sama pentingnya.
Sesuatu yang mulanya tabu dibicarakan oleh perempuan di desa, telah menjadi buah bibir di keseharian Hiroko. Tanpa malu dia menceritakan pada teman-temannya dan atasannya tentang laki-laki yang pernah menidurinya.
Ketika memilih menjadi simpanan Yoshida, suami Natsuko, dia menjalaninya dengan santai dan tanpa rasa bersalah.
“Yoshida juga tidak mau melepaskanku. Dia berkata membutuhkan aku. Malam itu dia berkata, Natsuko barangkali seorang istri dan ibu yang baik. Tetapi sebagai kekasih, kurang bernapsu. Aku tidak mengetahui apa sebabnya. Pihak perempuan harus menurut dan menerima. Tanpa kehangatan maupun sifat tantangan. Aku termasuk kelompok lain. Dari jenis di luar pagar. Kemahiran untuk mengecap kenikmatan tidak terbatas hanya pada bentuk menerima. Kami pun bisa memberi, memulai, dan mengambil langkah pertama. Juga dalam mencinta. Tidur dengan perempuan seperti kami, laki-laki dapat menghayal memiliki sepuluh perempuan sekaligus. (hal. 240)
Begitu pula Marwah, niat semula datang ke Jakarta untuk menjadi pembantu rumah tangga. Kemudian tertarik menjadi wanita panggilan seperti Shinta walau sahabatnya itu telah menentangnya.
Namun, Marwah masih memiliki rasa malu akan profesinya. Dia berusaha menutupi pekerjaannya dan tempat tinggalnya dari orang lain. Hanya Shinta satu-satunya yang mengetahui keburukannya.
Tiga tahun lamanya Marwah menjalani profesinya. Selama itu dia menikmati hidupnya.
“Yang penting buatku adalah aku tidak pernah merugikan orang lain serta bisa membuat orang-orang di sekitarku bahagia. Biar aku sendiri yang menanggung beban dosanya.” (hal. 30)
Hiroko dan Marwah mempunyai tujuan yang sama datang ke kota, sebagai pembantu rumah tangga. Lalu, memilih jalan yang sama pula untuk dilaluinya akibat teman pergaulannya.
Materi menjadi tujuan hidup
Hiroko sebenarnya sudah memiliki kehidupan yang lumayan dengan bekerja di toko pakaian. Namun dia tahu penghasilannya itu tidak akan cukup untuk membeli rumah besar idamannya. Hiroko butuh jaminan untuk masa tuanya. Itulah alasan dia menjadi penari telanjang dan bersedia melayani laki-laki yang berdompet tebal.
Ketika Suprapto, pacarnya yang merupakan mahasiswa Indonesia menawarkan pernikahan sebagai tujuan hidup seperti umumnya perempuan, Hiroko tidak menggubrisnya.
“Pernikahan itu seperti sebuah pintu. Orang-orang yang berada di dalamnya ingin ke luar. Dan orang yang di luar ingin masuk.” Perkataan Emiko tersebut terus membayanginya.
Dalam hal percintaannya, bila telah bosan dengan pasangannya Hiroko akan berlalu meninggalkannya. Prinsipnya, “Aku suka pada laki-laki yang pandai dan berotak. Tetapi aku lebih menghargai lelaki yang tahu berbicara tentang kehidupan sekeliling, dan lebih-lebih yang mengerti dan menganggapi kemauanku sebagai perempuan.” (hal. 234)
Sedangkan bagi Marwah, materi yang dikumpulkan lebih pada rasa ingin dihormati. Karena dalam masyarakatnya keluhuran budi bukanlah jaminan seseorang akan dipandang dan disegani.
Marwah menyesuaikan pemikirannya dengan pemikiran umum masyarakat dalam bersosialisasi. Memiliki harta yang banyak adalah satu-satunya pilihan untuk mendapatkan tempat yang dihargai. Dengan uang segalanya bisa dibeli. Mungkin begitu. Namun demikian, sekalipun uangnya berasal dari pekerjaan yang salah, Marwah tetaplah pemurah.
Nilai-nilai agama
Dalam novel Namaku Hiroko sulit ditemukan nilai-nilai agamanya. Urusan agama hanya tampak ketika Hiroko dan kawan-kawannya pergi sembahyang ke kuil. Saat itu terlintas di pikirannya untuk membuatkan meja pemujaan yang baru dan besar untuk rumahnya di kampung. Selain itu Hiroko ataupun tokoh-tokoh lainnya tidak pernah menyinggung dan membahas segala sesuatu yang berbau agama.
Berbeda dengan Hiroko, tokoh Marwah dalam KBS, masih sering mengingat tuhan dan kerap berdoa. Dia menyadari pekerjaannya tidak benar, walau terus menjalaninya.
“Semoga Tuhan mengampuniku atas apa yang aku lakukan selama ini. Karena apa yang aku lakukan bukan semata-mata agar aku bergelimang harta, tapi ini semua aku lakukan agar aku bisa bermanfaat untuk sesama dan keluarga, terutama ibu.” (hal. 34)
Memang benar, Marwah tercatat sebagai donatur tetap sebuah yayasan.
Lalu ketika Hamzah melamarnya, Marwah tidak langsung menerima. Dia sadar siapa dirinya. Dia merasa tidak pantas menjadi istri seorang ustadz. Baginya mencintai Hamzah secara diam-diam itu sudah cukup. Jika kemudian dia menikah dengan Hamzah semata-mata agar dia memiliki imam yang akan membimbing dalam pertobatannya.
Sedangkan Hiroko, selain jauh dari agama, dia benar-benar memerdekakan dirinya dari rasa bersalah. Perselingkuhannya dengan Yoshida sedikitpun tidak membuatnya merasa bersalah pada Natsuko. Baginya Yoshida membutuhkan kehangatannya dan dia membutuhkan uang laki-laki itu. Mereka impas.
Waktu Yoshida tidak mendatanginya pada suatu malam karena Natsuko masuk rumah sakit setelah mencoba bunuh diri, Hiroko hanya berpikir, “Apakah yang membuat temanku itu berkehendak mengakhiri hidupnya? Atau karena keberaniannya menantang kematian? Itu semua masa bodoh bagiku. Namun aku terpaksa menghadapinya karena justru menyentuh kepentinganku; Yoshida tidak datang malam itu.” (hal. 226)
Pada akhirnya Hiroko benar-benar menjadi istri simpanan Yoshida. Dari laki-laki itu dia mendapatkan rumah besar di Kyoto seperti impiannya, Bar Manhattan atas namanya, dan beberapa saham di toko tempatnya bekerja dulu yang menjadikannya sebagai orang penting dalam rapat. Mereka hidup bersama dan memiliki dua orang anak. Hiroko merasa bahagia dan puas dengan pencapaiannya saat itu.
***
Kedua novel tersebut bercerita tentang permasalahan yang serupa. Berangkat dari kondisi dan struktur keluarga yang nyaris sama pula, Hiroko dan Marwah menjalani pilihan hidupnya dengan suka rela. Namun cara mereka memaknai hidup dan nilai spiritual yang melekat pada keduanya jelas berbeda.
Dalam alur cerita, Hiroko digambarkan sebagai pekerja keras. Pembaca bisa melihat dengan jelas kesibukannya menjalani rutinitasnya. Tugas-tugasnya di kantor, di kabaret dan saat bersama laki-laki. Semua terpampang nyata.
Pada KBS, profesi Marwah tidak begitu tampak. Tidak ditemukan kebersamaan Marwah dengan para pelanggannya, tidak ada juga penggambaran kuliyahnya. Status Marwah sebagai mahasiswa hanya disinggung dalam percakapan antar tokoh. KBS lebih menitikberatkan pada proses pertaubatan Marwah.
[*]Mei 2014
Label buruk yang terlanjur melekat pada seseorang akan serta-merta menyudutkannya dalam pergaulan. Sekalipun masyarakat umum tidak turut menanggung konsekuensi perbuatannya. Tapi, begitulah. Pertobatan pun belum tentu bisa menghapus citra yang ada.
Dalam sastra Indonesia, tidak sedikit novel yang bercerita tentang pelacuran. Di antaranya Namaku Hiroko karangan NH. Dini. Berikut ini saya menulis sedikit ulasan mengenai Namaku Hiroko dan novel Kau Bidadari Surgaku karangan Ade Kurniawan, seorang penulis pendatang baru.
ANTARA HARTA, STATUS SOSIAL DAN CINTA
Oleh: Zurnila Emhar Ch
Oleh: Zurnila Emhar Ch
Novel Namaku Hiroko menceritakan tentang gadis Jepang yang berasal dari desa. Ibunya telah meninggal. Namun ibu tirinya membesarkannya penuh cinta. Hiroko memiliki dua orang adik laki-laki seayah. Pamannya mengajar bahasa asing di sebuah perguruan agama.
Hiroko merantau ke kota Kobe untuk mengubah hidup. Dia mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Seiring waktu, gemerlap kota telah menghipnotis Hiroko untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Mulanya dia hanya ingin membeli gaun malam seperti milik bibinya. Namun ketika bertemu Michiko, Hiroko mulai berpikir untuk memiliki pakaian-pakaian dan aksesoris yang mahal.
Untuk mencapai keinginannya, Hiroko berhenti bekerja sebagai pembantu. Kemudian dia menjadi pegawai toko pakaian. Karir melesat dengan cepat. Penghasilannya terus meningkat. Kemudahan dalam hal keuangan juga didapatnya dari pacar-pacarnya, Kishihara Yukio dan Suprapto. Tetapi Hiroko tidak puas. Dia menginginkan uang yang bisa menjamin ketenangannya di masa tua. Dia juga ingin memiliki rumah mewah di kawasan elit seperti milik atasannya.
Ketika mendengar kabaret Teratai mencari penari striptease, Hiroko menyanggupinya. Dia juga tidak menolak melayani lelaki hidung belang selama bayarannya pantas.
Profesi sebagai pegawai toko, penari telanjang, wanita pengibur telah membuat Hiroko bergelimang harta. Dengan mudah dia bisa mengirim uang untuk keluarga dan membantu kerabatnya. Walaupun begitu, Hiroko tidak berhenti sampai di sana. Selain uang dia ingin mendapatkan laki-laki idamannya. Ketika suami sahabatnya, Yoshida Okamura, menunjukkan ketertarikan padanya, Hiroko memberinya harapan. Yoshida memenuhi kriterianya; muda, kaya dan tampan.
Pilihan hidup yang sama juga diambil Marwah, tokoh utama dalam novel Kau Bidadari Surgaku (KBS) karya Kurniawan Al Isyhad. Marwah berasal dari keluarga sederhana di pinggir rel kereta api di Kroya. Dia hidup bersama ibu dan dua orang adik laki-laki seibu. Ayahnya meninggal saat mengetahui kalau Marwah bukan anak kandungnya. Ternyata ibunya telah hamil sebelum menikah.
Marwah merantau ke Jakarta, terlunta-lunta dan menjadi wanita panggilan. Pekerjaan itu dilakukannya dengan senang hati karena darinya dia mendapatkan limpahan materi. Marwah bisa menopang perekonomian keluarga. Di kampung pun dia dikenal sebagai penderma.
Tujuan Marwah hanya satu; menjadi kaya dan dihormati.
Setelah berpindah dari satu laki-laki ke laki-laki lainnya, Marwah seakan menemukan jalan pulang setelah berkenalan dengan Hamzah, seorang guru ngaji. Diam-diam Marwah menyukainya dan mulai meninggalkan dunianya. Dengan dukungan sahabatnya, Marwah mulai rajin sembahyang, mengikuti pengajian dan mengubah penampilannya.
Ketika sahabatnya muncul di berita televisi sebagai perempuan simpanan yang dijadikan alat cuci uang oleh seorang pengusaha yang merangkap ketua partai, Marwah makin mendekat kepada tuhan. Rasa bersalah karena membohongi ibunya terus membayanginya. Dalam sebuah doanya, Marwah bermunajat, “Berikanlah aku jalan keberanian untuk mengakui semua kebusukanku di hadapan ibu, dan selamatkanlah ibu, lindungi hati dan jasadnya dari rasa sakit karena dosaku.” (hal. 260)
Pada akhirnya Hamzah melamar Marwah. Namun usia pernikahan mereka tidak lama. Marwah meninggal akibat penyakit magh kronisnya.
Kebebasan menentukan pilihan hidup
Hiroko meninggalkan pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga saat majikannya sedang hamil tua. Dia bahkan tidak mau menunggu kedatangan penggantinya. Dia tidak mau direpotkan dengan mengurus bayi.
Pergaulan Hiroko dengan teman-temannya di kota Kobe telah mengubahnya 180 derajat. Hiroko yang pemalu dan lugu berubah menjadi berani dan materialistik.
Sejak menjalani hubungan intim pertamanya dengan Sanao, adik majikannya, Hiroko selalu menunggu-nunggu malam berikutnya. Pun ketika dia tidak begitu menyukai suami majikannya yang menghendakinya, Hiroko tetap melayaninya. Bagi Hiroko seks dan uang sama pentingnya.
Sesuatu yang mulanya tabu dibicarakan oleh perempuan di desa, telah menjadi buah bibir di keseharian Hiroko. Tanpa malu dia menceritakan pada teman-temannya dan atasannya tentang laki-laki yang pernah menidurinya.
Ketika memilih menjadi simpanan Yoshida, suami Natsuko, dia menjalaninya dengan santai dan tanpa rasa bersalah.
“Yoshida juga tidak mau melepaskanku. Dia berkata membutuhkan aku. Malam itu dia berkata, Natsuko barangkali seorang istri dan ibu yang baik. Tetapi sebagai kekasih, kurang bernapsu. Aku tidak mengetahui apa sebabnya. Pihak perempuan harus menurut dan menerima. Tanpa kehangatan maupun sifat tantangan. Aku termasuk kelompok lain. Dari jenis di luar pagar. Kemahiran untuk mengecap kenikmatan tidak terbatas hanya pada bentuk menerima. Kami pun bisa memberi, memulai, dan mengambil langkah pertama. Juga dalam mencinta. Tidur dengan perempuan seperti kami, laki-laki dapat menghayal memiliki sepuluh perempuan sekaligus. (hal. 240)
Begitu pula Marwah, niat semula datang ke Jakarta untuk menjadi pembantu rumah tangga. Kemudian tertarik menjadi wanita panggilan seperti Shinta walau sahabatnya itu telah menentangnya.
Namun, Marwah masih memiliki rasa malu akan profesinya. Dia berusaha menutupi pekerjaannya dan tempat tinggalnya dari orang lain. Hanya Shinta satu-satunya yang mengetahui keburukannya.
Tiga tahun lamanya Marwah menjalani profesinya. Selama itu dia menikmati hidupnya.
“Yang penting buatku adalah aku tidak pernah merugikan orang lain serta bisa membuat orang-orang di sekitarku bahagia. Biar aku sendiri yang menanggung beban dosanya.” (hal. 30)
Hiroko dan Marwah mempunyai tujuan yang sama datang ke kota, sebagai pembantu rumah tangga. Lalu, memilih jalan yang sama pula untuk dilaluinya akibat teman pergaulannya.
Materi menjadi tujuan hidup
Hiroko sebenarnya sudah memiliki kehidupan yang lumayan dengan bekerja di toko pakaian. Namun dia tahu penghasilannya itu tidak akan cukup untuk membeli rumah besar idamannya. Hiroko butuh jaminan untuk masa tuanya. Itulah alasan dia menjadi penari telanjang dan bersedia melayani laki-laki yang berdompet tebal.
Ketika Suprapto, pacarnya yang merupakan mahasiswa Indonesia menawarkan pernikahan sebagai tujuan hidup seperti umumnya perempuan, Hiroko tidak menggubrisnya.
“Pernikahan itu seperti sebuah pintu. Orang-orang yang berada di dalamnya ingin ke luar. Dan orang yang di luar ingin masuk.” Perkataan Emiko tersebut terus membayanginya.
Dalam hal percintaannya, bila telah bosan dengan pasangannya Hiroko akan berlalu meninggalkannya. Prinsipnya, “Aku suka pada laki-laki yang pandai dan berotak. Tetapi aku lebih menghargai lelaki yang tahu berbicara tentang kehidupan sekeliling, dan lebih-lebih yang mengerti dan menganggapi kemauanku sebagai perempuan.” (hal. 234)
Sedangkan bagi Marwah, materi yang dikumpulkan lebih pada rasa ingin dihormati. Karena dalam masyarakatnya keluhuran budi bukanlah jaminan seseorang akan dipandang dan disegani.
Marwah menyesuaikan pemikirannya dengan pemikiran umum masyarakat dalam bersosialisasi. Memiliki harta yang banyak adalah satu-satunya pilihan untuk mendapatkan tempat yang dihargai. Dengan uang segalanya bisa dibeli. Mungkin begitu. Namun demikian, sekalipun uangnya berasal dari pekerjaan yang salah, Marwah tetaplah pemurah.
Nilai-nilai agama
Dalam novel Namaku Hiroko sulit ditemukan nilai-nilai agamanya. Urusan agama hanya tampak ketika Hiroko dan kawan-kawannya pergi sembahyang ke kuil. Saat itu terlintas di pikirannya untuk membuatkan meja pemujaan yang baru dan besar untuk rumahnya di kampung. Selain itu Hiroko ataupun tokoh-tokoh lainnya tidak pernah menyinggung dan membahas segala sesuatu yang berbau agama.
Berbeda dengan Hiroko, tokoh Marwah dalam KBS, masih sering mengingat tuhan dan kerap berdoa. Dia menyadari pekerjaannya tidak benar, walau terus menjalaninya.
“Semoga Tuhan mengampuniku atas apa yang aku lakukan selama ini. Karena apa yang aku lakukan bukan semata-mata agar aku bergelimang harta, tapi ini semua aku lakukan agar aku bisa bermanfaat untuk sesama dan keluarga, terutama ibu.” (hal. 34)
Memang benar, Marwah tercatat sebagai donatur tetap sebuah yayasan.
Lalu ketika Hamzah melamarnya, Marwah tidak langsung menerima. Dia sadar siapa dirinya. Dia merasa tidak pantas menjadi istri seorang ustadz. Baginya mencintai Hamzah secara diam-diam itu sudah cukup. Jika kemudian dia menikah dengan Hamzah semata-mata agar dia memiliki imam yang akan membimbing dalam pertobatannya.
Sedangkan Hiroko, selain jauh dari agama, dia benar-benar memerdekakan dirinya dari rasa bersalah. Perselingkuhannya dengan Yoshida sedikitpun tidak membuatnya merasa bersalah pada Natsuko. Baginya Yoshida membutuhkan kehangatannya dan dia membutuhkan uang laki-laki itu. Mereka impas.
Waktu Yoshida tidak mendatanginya pada suatu malam karena Natsuko masuk rumah sakit setelah mencoba bunuh diri, Hiroko hanya berpikir, “Apakah yang membuat temanku itu berkehendak mengakhiri hidupnya? Atau karena keberaniannya menantang kematian? Itu semua masa bodoh bagiku. Namun aku terpaksa menghadapinya karena justru menyentuh kepentinganku; Yoshida tidak datang malam itu.” (hal. 226)
Pada akhirnya Hiroko benar-benar menjadi istri simpanan Yoshida. Dari laki-laki itu dia mendapatkan rumah besar di Kyoto seperti impiannya, Bar Manhattan atas namanya, dan beberapa saham di toko tempatnya bekerja dulu yang menjadikannya sebagai orang penting dalam rapat. Mereka hidup bersama dan memiliki dua orang anak. Hiroko merasa bahagia dan puas dengan pencapaiannya saat itu.
***
Kedua novel tersebut bercerita tentang permasalahan yang serupa. Berangkat dari kondisi dan struktur keluarga yang nyaris sama pula, Hiroko dan Marwah menjalani pilihan hidupnya dengan suka rela. Namun cara mereka memaknai hidup dan nilai spiritual yang melekat pada keduanya jelas berbeda.
Dalam alur cerita, Hiroko digambarkan sebagai pekerja keras. Pembaca bisa melihat dengan jelas kesibukannya menjalani rutinitasnya. Tugas-tugasnya di kantor, di kabaret dan saat bersama laki-laki. Semua terpampang nyata.
Pada KBS, profesi Marwah tidak begitu tampak. Tidak ditemukan kebersamaan Marwah dengan para pelanggannya, tidak ada juga penggambaran kuliyahnya. Status Marwah sebagai mahasiswa hanya disinggung dalam percakapan antar tokoh. KBS lebih menitikberatkan pada proses pertaubatan Marwah.
[*]Mei 2014


Comments
Post a Comment