Rahasia Sukses Penulis Bodoh Part I (Kata Pengantar)
Tepuk tangan riuh ketika namaku disebut. Aku tersenyum bangga. Belum beranjak dari tempat duduk. Sengaja, biar audien penasaran. Bahkan ada teriakan, “Turunkan BBM!” aku menengok cepat. O, ternyata itu suara hatiku sendiri yang akhir-akhir ini sangat berkeinginan untuk menurunkan BBM. Tapi da akumah apa atuh. (abaikan yang ini)
“Silakan, Kang. Waktu dan tempat saya persilakan,” kata gadis berkerudung biru. Dari matanya melesat ribuan anak panah setiap kali berkedip. Aku terpanah, aku jatuh cinta segera. (Maaf Istriku ... ha ha.. )
Aku mengangguk dan tersenyum. Sebelum melangkahkan kaki ke atas podium, aku mengecup kening putriku yang akhir-akhir ini selalu ikut kemana dan apa pun kegiatanku. Tapi tak apa, justru itu membuat bahagia. Sementara tepuk tangan semakin riuh memenuhi aula sebuah universitas ternama di kota Bandung. Segera aku naik. Berdiri, lalu jungkir balik eh, tidak! aku bukan topeng monyet, tapi pembicara tunggal dalam sebuah acara bedah buku berjudul ‘Rahasia Sukses Penulis Bodoh’ , karyaku yang menjadi salah satu buku Best Seler di dunia nyata dan dunia ghaib.
Aku berdehem, memukul mikrofon dengan palu he he. Dengan jari deng. Maka suasana berubah senyap seketika. Hanya terdengar deru kendaraan dari luar gedung, juga suara hati rakyat miskin yang berdemo menagih janji kepada pemerintah. (abaikan lagi yang ini).
Aku menarik nafas dalam. Mengumpulkan serpihan ilmu yang tercecer sebelum bicara. Aku sadar diri, dihadapanku kini duduk sekitar 2 miliyar manusia dan jin yang ingin mendengarkan penjelasan bagaimana caranya penulis bodoh bisa sukses. Semua mata tertuju ‘padadang padadang padudung padudung’ padaku. Namun aku tak gentar sedikitpun. Kepercayaan diri sangat besar atau lebih tepatnya aku tak punya malu. Terserahlah.
“Silakan, Kang. Di sini Kang Acil sebagai pembicara bukan sebagai Limbad si raja sulap,” kata gadis moderator. Tawa kembali menguar. Bahkan tawaku paling keras.
Setelah 40 hari 40 malam kami tertawa, maka tibalah saatnya aku bicara. Tak lupa aku berdoa sebelum mulai bicara, namun karena aku hanya bisa doa masuk WC doang, al hasil perutku mules. Aku tertawa sendiri. Tapi dalam hati.
Mungkin karena aku tak jua bicara, si gadis cantik berkerudung biru yang dari bibirnya terbang kupu-kupu itu, segera mengendalikan situasi, “Teman-teman yang baik dan tidak baik, karena pembicara kita ini malah asik sendiri dengan lamunannya, maka acara langsung saya lanjutkan pada sesi tanya jawab. Nanti akan dijawab oleh pembicara kita. Namun jika jawabannya ngawur, maklum saja yaa...” katanya sambil memanah hatiku dengan tatapannya. Sengaja aku mengelak, biarlah aku terkapar dikelopak matanya. Menemaninya ketika bahagia, mereguk air mata lukanya. “O, moderator aku tresno karo koe,” bisik hatiku.
“Kesempatan pertama saya berikan kepada komunitas ibu-ibu rebutan remot Tv dengan suaminya,” kata si moderator sambil nyengir kuda.
Dari sebuah sumur tua, seorang wanita paruh baya (separuh manusia separuh buaya) muncul. Ini gedung apa hutan sih, kok ada sumur tua? Jadi inget film G 30 S PKI, yang penuh kontroversi (abaikan lagi). Jujur, saya pun tak tahu kenapa harus menulis begitu, nikmati saja, karena bukan penulis bodoh jika tidak ngawur.
Kita lanjutkan. Wanita itu membawa Gaget dan sebuah buku tulis, juga mengenakan dasi kupu-kupu dengan pakaian seragam hitam putih kumal. Semua menatapnya, namun tak ada yang berteriak, karena memang bukan acara demo kenaikan BBM. Sebelum dia bertanya, dia terlebih dahulu minta foto dengan. Maka, aku pun segera memasang pose terseksi : tangan kanan membentuk huruf ‘V’ di depan bibir yang sengaja dimanyunkan.
Setelah itu, Sadako mencuri mikrofon di toko Koh Ahok, ia mengetuk-ngetuk dengan kepala. “Selamat pagi, Kang...” katanya disertai angin dingin.
Kurekatkan kerah kemeja hitamku. “Pagi, “ jawabku dan tersenyum. Dalam hati aku merasa bangga karena ternyata tidak hanya dikenal oleh manusia, tapi hantu dari jepang pun ikut mengagumiku.
“Sebutkan nama dan darimana!” seru moderator.
“Saya Sadako, hantu sumur dari negeri negeri jepang,” jawabnya tanpa menatap.
“Lanjutkan!” seru Moderator.
Sadako mengangguk, dengan gerakan kepala, ia menyingsingkan rambut yang menutupi wajahnya. Lalu mulai bertanya.
“Kakak penulis?” tanya dia.
“Kata siapa?” aku balik bertanya.
“Aku lihat Foto Fropil Kakak di media sosial cover novel. Itu karya kakak’kan?”
“O, itu ... iya, itu aku yang menulis.”
“Kalau begitu Kakak seorang penulis dong!” katanya lagi.
“Ya, gimana orang menyebut saja. Tapi, andai benar penulis, aku hanyalah seorang penulis bodoh.” Aku rendah hati ya..ya ilyalah la wong tinggiku hanya 160 kurang. Abaikan yang ini. Bayangkan saja aku pria seksi. Karena dia begitu cepat kembali bertanya. “Memangnya bisa penulis bodoh sukses?”
Aku tak kalah cepat dong, “Memang menurutmu saya sudah sukses?”
“Buktinya, Kakak sudah menerbitkan beberapa novel yang bagus. Gini-gini aku pembaca karya Kakak lo ... ”
Aku tersenyum, suasana mulai mencair. “Jika menurutmu aku sudah sukses, maka selaiknya aku bersyukur. Meskipun ukuran kesuksesan seorang penulis bukan diukur dari berapa buku yang sudah ia terbitkan,”
“Lalu apa?”
“Dari seberapa manfaatkah karyanya untuk dia sendiri, keluarga dan orang banyak.” Aku menjawab sungguh-sungguh.
Dia terdiam. Seperti sedang mencari bahan untuk ditanyakan kembali.
Dari peryataannya, aku sedikit punya gambaran tentang kesuksesan seorang penulis menurut kebanyakan orang. Mereka mengira jika sudah menerbitkan sebuah buku baik itu novel fiksi atau buku non fiksi, apa pun itu, maka sudah bisa dibilang sukses. Akibatnya, semua berlomba-lomba agar bisa secepatnya menerbitkan buku tanpa peduli kualitas karya tersebut. Ya, seperti aku dulu he he. Indie dan Mayor label itu masa bodoh, yang penting terbit dulu, cover dipajang di Sosial Media dengan kata-kata pembuka, ‘Ini karyaku lo, yuk diorder!”Dan lalu pujian berkerumun di fotonya, maka semakin banggalah dia meski dari 30 orang yang berkomentar tak satu pun membeli bukunya. Yang penting gaya meskipun rugi biaya. Tapi tentu saja tak masalah bagi mereka yang punya pohon rupiah.
Lalu apa untungnya buat si penulis? Tidak ada sama sekali, pujian yang justru membuat dirinya mengangkat dagu, mencemooh kerabatnya dengan lantang ketika memposting tulisan di beranda, ‘Itu typo, tolong belajar lagi EYD’ dan kata-kata lain yang membuat dirinya semakin merasa pintar. Itukah ukuran kesuksesan? Sungguh hina jika ukuran kesuksesan hanya diukur dari dia sudah menerbitkan atau belum karyanya. Saya tidak melarang seseorang untuk bangga dengan karyanya, justru harus! Asal, kebanggaan itu disertai dengan kualitas. atau lebih baik menyimpan rasa bangga dalam hati untuk dijadikan motivasi agar semakin kreatif dan produktif.
***
Setelah Sadako, penanya selanjutnya masih dari Negera Jepang: Boneka Sakti sang empunya kantong ajaib di perut karena dia tidak punya pinggang. Seratus! Benar, Doraemon. Dia bertanya, “Kok bisa penulis bodoh seperti Kakakbisa sukses menerbitkan novel sih? Kasih aku tip-nya dong...” tanya dia dengan suara seraknya.
Aku tersenyum, dan bergumam. “ Nah, Piduiteun nih!”
“Kenapa tidak! Toh tidak semua orang pintar juga bisa menjadi penulis sukses, iya kan?” jawabku.
Setelah terdiam sejenak, dia kembali berkata, “Iyaaa ... tapi untuk bisa menulis, tentu dibutuhkan ilmu dan wawasan luas,” katanya.” Menulis itu bukan hanya sekedar bercerita apalagi berkhayal, tapi juga membangun sebuah dunia dengan kepingan kenangan, khayalan dan wawasan, diungkapkan melalui bahasa tulisan. Kalau kita bodoh, apa yang mau dijadikan bahan tulisan!?” Doraemon berkata lantang.
“Cerdas juga ni boneka!” pikirku, tapi tentu saja penulis bodoh seperti aku tak boleh kalah bicara sama mereka yang pintar. Lalu tanpa berpikir panjang apalagi pikir pendek, mau benar atau tidak jawababku, maka aku pun menjawab,“Bahkan kebodohan adalah salah satu cabang ilmu. Kebodohan itu lah sumber pengetahuan. Tanpa kebodohan, tak mungkin ada rasa ingin mengetahui. Tanpa kebodohan, tak kan ada ilmu. Dan sejatinya pintar atau bodoh semata asumsi rasa.”
“Lalu, apa yang mesti ditulis jika bodoh dan tak tau apa-apa?” Dia bertanya kembali.
Nah, makin rumit kan pertanyaannya,” gerutuku. Tapi, tak bisa aku membiarkan orang bertanya tanpa jawaban, “Sebenarnya yang bodoh siapa sih? Kamu atau aku? Masa gak tahu apa yang musti ditulis oleh mereka yang merasa dirinya bodoh dan tak tahu apa-apa?”
“Iya apa?” tersirat penasaran.
“Kebodohan itu sendiri yang menjadi ide ceritamu, dan ketidaktahuanmu akan menjadi sebuah tulisan hebat jika kau susun dengan tepat.”
“Aku tak mengerti?”
“Nah itu ... ‘Aku tak mengerti, bagaimana caranya penulis bodoh bisa sukses?’ apakah kalimat itu bukan sebuah tulisan?”
“O iya ... ya,” jawabnya.
***
Diskusi terus berlanjut. Dari mulai membahas bagaimana cara menulis novel yang baik, hingga memperbincangkan rupiah yang terus melemah. Bahkan, harga kebutuhan pokok pun menjadi tema acara bedah buku hari ini. Ya, maklumlah kalau ngawur, kan pembicaranya juga penulis bodoh. Jadi jangan heran jika semua audien sama bodohnya.
Tak terasa 15 tahun sudah kami diskusi. Lupa waktu, lupa makan, lupa usia, tapi selalu ingat mantan. Kami pungkas acara bedah buku kali ini dengan menyanyikan lagu Ayu Tingting ‘kemana..kemana..kemana, sambil bersalaman kayak hari lebaran. Setelah itu aku pun pulang.
***
Itulah sepintas tentang acara Fiksi yang diadakan barusan dalam kepala saya. Yang menjadi awal datangnya ide untuk menulis sebuah buku motivasi dan cara-cara menulis sebuah novel. Namun, jika sama dengan buku lain, tentu saja tidak asik. Aku harus beda! maka terbesitlah ide untuk menuangkan sisi bodoh dalam buku ini. Proses bodoh saya dalam menulis sebuah naskah. Kenapa?Karena setiap manusia pasti mempunyai sisi bodoh, tak ada kecuali. Nah, dari kebodohan itulah buku ini dibuat. Tanpa rencana, mengalir begitu saja. Tanpa banyak pikir panjang, apalagi pikir pendek. Namun, yakinlah! segala kebodohan dalam buku ini, bisa membangkitkan intuisi hati dan indera jiwa yang mungkin sudah lama tertidur, terbelenggu aturan-aturan baku ketika proses menulis. Jadi saya tekankan! tujuan buku ini bukan membuat cerdas, melainkan sekedar melepaskan beban yang selama ini menghambat proses kreatif
Selain dari cara penulisan yang beda : bergaya sebuah novel, isi buku ini juga beda dari buku motivasi menulis yang sudah ada sebelumnya. Trik dan tips serta penyampaianya beda dengan buku-buku sejenisnya. Ini bertujuan agar kita tidak bosan ketika membacanya. Dalam buku ini juga tidak hanya melulu teori yang semua penulis mungkin sudah tahu, juga saya sertakan kesempatan kepada pembaca untuk praktek langsung. Pokoknya, buku ini saya racik sedemikian rupa agar tetap terlihat bodoh namun menyadari kebodohan.
Mungkin juga nakal, sedikit tak masuk akal, menentang aturan yang telah dibuat banyak penulis hAndal. Tentu saja,karena sang penulis buku ini bukan seorang yang piawai, namun tahu apa itu kebodohan. Sedang ketidaktahuannya, ia jadikan senjata untuk menyerang otak kanan Anda.
Bagi mereka yang menuhankan logika, mungkin buku ini akan dicaci bahkan di hujat. Tapi Biarlah, karena memang selalu ada dua sisi pendapat dalam memAndang suatu hal. Namun, bagi mereka yang menyadari adanya kekuatan Maha Besar yang senantiasa bergerak mempengaruhi jalan hidup manusia, buku ini mungkin bisa lebih semakin membuka intuisi hati, pikiran serta jiwa. Buku ini semakin membuat pembacanya bodoh namun, percaya Tuhan.
Bagaimana, sudah siap untuk menjadi ‘Penulis Bodoh Sukses’!
Ayo kita bakar dulu semangat agar semakin bodoh dengan menyerahkan semua daya dan upaya pada Tuhan Semata.
***
Kita lanjutkan nanti ya ... Jangan lupa komentar :)
“Silakan, Kang. Waktu dan tempat saya persilakan,” kata gadis berkerudung biru. Dari matanya melesat ribuan anak panah setiap kali berkedip. Aku terpanah, aku jatuh cinta segera. (Maaf Istriku ... ha ha.. )
Aku mengangguk dan tersenyum. Sebelum melangkahkan kaki ke atas podium, aku mengecup kening putriku yang akhir-akhir ini selalu ikut kemana dan apa pun kegiatanku. Tapi tak apa, justru itu membuat bahagia. Sementara tepuk tangan semakin riuh memenuhi aula sebuah universitas ternama di kota Bandung. Segera aku naik. Berdiri, lalu jungkir balik eh, tidak! aku bukan topeng monyet, tapi pembicara tunggal dalam sebuah acara bedah buku berjudul ‘Rahasia Sukses Penulis Bodoh’ , karyaku yang menjadi salah satu buku Best Seler di dunia nyata dan dunia ghaib.
Aku berdehem, memukul mikrofon dengan palu he he. Dengan jari deng. Maka suasana berubah senyap seketika. Hanya terdengar deru kendaraan dari luar gedung, juga suara hati rakyat miskin yang berdemo menagih janji kepada pemerintah. (abaikan lagi yang ini).
Aku menarik nafas dalam. Mengumpulkan serpihan ilmu yang tercecer sebelum bicara. Aku sadar diri, dihadapanku kini duduk sekitar 2 miliyar manusia dan jin yang ingin mendengarkan penjelasan bagaimana caranya penulis bodoh bisa sukses. Semua mata tertuju ‘padadang padadang padudung padudung’ padaku. Namun aku tak gentar sedikitpun. Kepercayaan diri sangat besar atau lebih tepatnya aku tak punya malu. Terserahlah.
“Silakan, Kang. Di sini Kang Acil sebagai pembicara bukan sebagai Limbad si raja sulap,” kata gadis moderator. Tawa kembali menguar. Bahkan tawaku paling keras.
Setelah 40 hari 40 malam kami tertawa, maka tibalah saatnya aku bicara. Tak lupa aku berdoa sebelum mulai bicara, namun karena aku hanya bisa doa masuk WC doang, al hasil perutku mules. Aku tertawa sendiri. Tapi dalam hati.
Mungkin karena aku tak jua bicara, si gadis cantik berkerudung biru yang dari bibirnya terbang kupu-kupu itu, segera mengendalikan situasi, “Teman-teman yang baik dan tidak baik, karena pembicara kita ini malah asik sendiri dengan lamunannya, maka acara langsung saya lanjutkan pada sesi tanya jawab. Nanti akan dijawab oleh pembicara kita. Namun jika jawabannya ngawur, maklum saja yaa...” katanya sambil memanah hatiku dengan tatapannya. Sengaja aku mengelak, biarlah aku terkapar dikelopak matanya. Menemaninya ketika bahagia, mereguk air mata lukanya. “O, moderator aku tresno karo koe,” bisik hatiku.
“Kesempatan pertama saya berikan kepada komunitas ibu-ibu rebutan remot Tv dengan suaminya,” kata si moderator sambil nyengir kuda.
Dari sebuah sumur tua, seorang wanita paruh baya (separuh manusia separuh buaya) muncul. Ini gedung apa hutan sih, kok ada sumur tua? Jadi inget film G 30 S PKI, yang penuh kontroversi (abaikan lagi). Jujur, saya pun tak tahu kenapa harus menulis begitu, nikmati saja, karena bukan penulis bodoh jika tidak ngawur.
Kita lanjutkan. Wanita itu membawa Gaget dan sebuah buku tulis, juga mengenakan dasi kupu-kupu dengan pakaian seragam hitam putih kumal. Semua menatapnya, namun tak ada yang berteriak, karena memang bukan acara demo kenaikan BBM. Sebelum dia bertanya, dia terlebih dahulu minta foto dengan. Maka, aku pun segera memasang pose terseksi : tangan kanan membentuk huruf ‘V’ di depan bibir yang sengaja dimanyunkan.
Setelah itu, Sadako mencuri mikrofon di toko Koh Ahok, ia mengetuk-ngetuk dengan kepala. “Selamat pagi, Kang...” katanya disertai angin dingin.
Kurekatkan kerah kemeja hitamku. “Pagi, “ jawabku dan tersenyum. Dalam hati aku merasa bangga karena ternyata tidak hanya dikenal oleh manusia, tapi hantu dari jepang pun ikut mengagumiku.
“Sebutkan nama dan darimana!” seru moderator.
“Saya Sadako, hantu sumur dari negeri negeri jepang,” jawabnya tanpa menatap.
“Lanjutkan!” seru Moderator.
Sadako mengangguk, dengan gerakan kepala, ia menyingsingkan rambut yang menutupi wajahnya. Lalu mulai bertanya.
“Kakak penulis?” tanya dia.
“Kata siapa?” aku balik bertanya.
“Aku lihat Foto Fropil Kakak di media sosial cover novel. Itu karya kakak’kan?”
“O, itu ... iya, itu aku yang menulis.”
“Kalau begitu Kakak seorang penulis dong!” katanya lagi.
“Ya, gimana orang menyebut saja. Tapi, andai benar penulis, aku hanyalah seorang penulis bodoh.” Aku rendah hati ya..ya ilyalah la wong tinggiku hanya 160 kurang. Abaikan yang ini. Bayangkan saja aku pria seksi. Karena dia begitu cepat kembali bertanya. “Memangnya bisa penulis bodoh sukses?”
Aku tak kalah cepat dong, “Memang menurutmu saya sudah sukses?”
“Buktinya, Kakak sudah menerbitkan beberapa novel yang bagus. Gini-gini aku pembaca karya Kakak lo ... ”
Aku tersenyum, suasana mulai mencair. “Jika menurutmu aku sudah sukses, maka selaiknya aku bersyukur. Meskipun ukuran kesuksesan seorang penulis bukan diukur dari berapa buku yang sudah ia terbitkan,”
“Lalu apa?”
“Dari seberapa manfaatkah karyanya untuk dia sendiri, keluarga dan orang banyak.” Aku menjawab sungguh-sungguh.
Dia terdiam. Seperti sedang mencari bahan untuk ditanyakan kembali.
Dari peryataannya, aku sedikit punya gambaran tentang kesuksesan seorang penulis menurut kebanyakan orang. Mereka mengira jika sudah menerbitkan sebuah buku baik itu novel fiksi atau buku non fiksi, apa pun itu, maka sudah bisa dibilang sukses. Akibatnya, semua berlomba-lomba agar bisa secepatnya menerbitkan buku tanpa peduli kualitas karya tersebut. Ya, seperti aku dulu he he. Indie dan Mayor label itu masa bodoh, yang penting terbit dulu, cover dipajang di Sosial Media dengan kata-kata pembuka, ‘Ini karyaku lo, yuk diorder!”Dan lalu pujian berkerumun di fotonya, maka semakin banggalah dia meski dari 30 orang yang berkomentar tak satu pun membeli bukunya. Yang penting gaya meskipun rugi biaya. Tapi tentu saja tak masalah bagi mereka yang punya pohon rupiah.
Lalu apa untungnya buat si penulis? Tidak ada sama sekali, pujian yang justru membuat dirinya mengangkat dagu, mencemooh kerabatnya dengan lantang ketika memposting tulisan di beranda, ‘Itu typo, tolong belajar lagi EYD’ dan kata-kata lain yang membuat dirinya semakin merasa pintar. Itukah ukuran kesuksesan? Sungguh hina jika ukuran kesuksesan hanya diukur dari dia sudah menerbitkan atau belum karyanya. Saya tidak melarang seseorang untuk bangga dengan karyanya, justru harus! Asal, kebanggaan itu disertai dengan kualitas. atau lebih baik menyimpan rasa bangga dalam hati untuk dijadikan motivasi agar semakin kreatif dan produktif.
***
Setelah Sadako, penanya selanjutnya masih dari Negera Jepang: Boneka Sakti sang empunya kantong ajaib di perut karena dia tidak punya pinggang. Seratus! Benar, Doraemon. Dia bertanya, “Kok bisa penulis bodoh seperti Kakakbisa sukses menerbitkan novel sih? Kasih aku tip-nya dong...” tanya dia dengan suara seraknya.
Aku tersenyum, dan bergumam. “ Nah, Piduiteun nih!”
“Kenapa tidak! Toh tidak semua orang pintar juga bisa menjadi penulis sukses, iya kan?” jawabku.
Setelah terdiam sejenak, dia kembali berkata, “Iyaaa ... tapi untuk bisa menulis, tentu dibutuhkan ilmu dan wawasan luas,” katanya.” Menulis itu bukan hanya sekedar bercerita apalagi berkhayal, tapi juga membangun sebuah dunia dengan kepingan kenangan, khayalan dan wawasan, diungkapkan melalui bahasa tulisan. Kalau kita bodoh, apa yang mau dijadikan bahan tulisan!?” Doraemon berkata lantang.
“Cerdas juga ni boneka!” pikirku, tapi tentu saja penulis bodoh seperti aku tak boleh kalah bicara sama mereka yang pintar. Lalu tanpa berpikir panjang apalagi pikir pendek, mau benar atau tidak jawababku, maka aku pun menjawab,“Bahkan kebodohan adalah salah satu cabang ilmu. Kebodohan itu lah sumber pengetahuan. Tanpa kebodohan, tak mungkin ada rasa ingin mengetahui. Tanpa kebodohan, tak kan ada ilmu. Dan sejatinya pintar atau bodoh semata asumsi rasa.”
“Lalu, apa yang mesti ditulis jika bodoh dan tak tau apa-apa?” Dia bertanya kembali.
Nah, makin rumit kan pertanyaannya,” gerutuku. Tapi, tak bisa aku membiarkan orang bertanya tanpa jawaban, “Sebenarnya yang bodoh siapa sih? Kamu atau aku? Masa gak tahu apa yang musti ditulis oleh mereka yang merasa dirinya bodoh dan tak tahu apa-apa?”
“Iya apa?” tersirat penasaran.
“Kebodohan itu sendiri yang menjadi ide ceritamu, dan ketidaktahuanmu akan menjadi sebuah tulisan hebat jika kau susun dengan tepat.”
“Aku tak mengerti?”
“Nah itu ... ‘Aku tak mengerti, bagaimana caranya penulis bodoh bisa sukses?’ apakah kalimat itu bukan sebuah tulisan?”
“O iya ... ya,” jawabnya.
***
Diskusi terus berlanjut. Dari mulai membahas bagaimana cara menulis novel yang baik, hingga memperbincangkan rupiah yang terus melemah. Bahkan, harga kebutuhan pokok pun menjadi tema acara bedah buku hari ini. Ya, maklumlah kalau ngawur, kan pembicaranya juga penulis bodoh. Jadi jangan heran jika semua audien sama bodohnya.
Tak terasa 15 tahun sudah kami diskusi. Lupa waktu, lupa makan, lupa usia, tapi selalu ingat mantan. Kami pungkas acara bedah buku kali ini dengan menyanyikan lagu Ayu Tingting ‘kemana..kemana..kemana, sambil bersalaman kayak hari lebaran. Setelah itu aku pun pulang.
***
Itulah sepintas tentang acara Fiksi yang diadakan barusan dalam kepala saya. Yang menjadi awal datangnya ide untuk menulis sebuah buku motivasi dan cara-cara menulis sebuah novel. Namun, jika sama dengan buku lain, tentu saja tidak asik. Aku harus beda! maka terbesitlah ide untuk menuangkan sisi bodoh dalam buku ini. Proses bodoh saya dalam menulis sebuah naskah. Kenapa?Karena setiap manusia pasti mempunyai sisi bodoh, tak ada kecuali. Nah, dari kebodohan itulah buku ini dibuat. Tanpa rencana, mengalir begitu saja. Tanpa banyak pikir panjang, apalagi pikir pendek. Namun, yakinlah! segala kebodohan dalam buku ini, bisa membangkitkan intuisi hati dan indera jiwa yang mungkin sudah lama tertidur, terbelenggu aturan-aturan baku ketika proses menulis. Jadi saya tekankan! tujuan buku ini bukan membuat cerdas, melainkan sekedar melepaskan beban yang selama ini menghambat proses kreatif
Selain dari cara penulisan yang beda : bergaya sebuah novel, isi buku ini juga beda dari buku motivasi menulis yang sudah ada sebelumnya. Trik dan tips serta penyampaianya beda dengan buku-buku sejenisnya. Ini bertujuan agar kita tidak bosan ketika membacanya. Dalam buku ini juga tidak hanya melulu teori yang semua penulis mungkin sudah tahu, juga saya sertakan kesempatan kepada pembaca untuk praktek langsung. Pokoknya, buku ini saya racik sedemikian rupa agar tetap terlihat bodoh namun menyadari kebodohan.
Mungkin juga nakal, sedikit tak masuk akal, menentang aturan yang telah dibuat banyak penulis hAndal. Tentu saja,karena sang penulis buku ini bukan seorang yang piawai, namun tahu apa itu kebodohan. Sedang ketidaktahuannya, ia jadikan senjata untuk menyerang otak kanan Anda.
Bagi mereka yang menuhankan logika, mungkin buku ini akan dicaci bahkan di hujat. Tapi Biarlah, karena memang selalu ada dua sisi pendapat dalam memAndang suatu hal. Namun, bagi mereka yang menyadari adanya kekuatan Maha Besar yang senantiasa bergerak mempengaruhi jalan hidup manusia, buku ini mungkin bisa lebih semakin membuka intuisi hati, pikiran serta jiwa. Buku ini semakin membuat pembacanya bodoh namun, percaya Tuhan.
Bagaimana, sudah siap untuk menjadi ‘Penulis Bodoh Sukses’!
Ayo kita bakar dulu semangat agar semakin bodoh dengan menyerahkan semua daya dan upaya pada Tuhan Semata.
***
Kita lanjutkan nanti ya ... Jangan lupa komentar :)

Comments
Post a Comment