Rahasia Sukses Penulis Bodoh Part II (Pembakar Semangat)
Bagi saya si tersangka bodoh, motivasi sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup (Sudah kayak buku biologi saja nih).“Kenapa?” Ada yang bertanya dalam kepala. Yang kemudian diketahui sebagai otak kiri.
Sebelum Kompeni numpang mandi di PT NKRI, sudah ada yang menjawab. Sudah pasti otak kanan, karena hanya dialah yangg selalu mengejek pola pikir otak kiri. “Karena motivasi adalah modal awal sebagai penentu bisa bertahan atau tidak dalam melakukan suatu hal. Tanpa motivasi yang jelas dan kuat, maka jangan heran jika cendrung kalah sebelum mencapai tujuan,” jawabnyatanpa pikir.
Otak kiri kembali bertanya, ” Lalu bagaimana caranya membangkitkan motivasi dan apa yang layak dijadikan motivasi dalam menulis?” tanya otak kiri sambil ngemil serpihan huruf dari sebuah buku karya seorang penulis terkenal luar negeri.
“Gampang!” Otak kanan bicara cepat. Otak kiri mengerutkan kening (jangan bayangkan otak punya kening ya karena Anda pun harus membayangkan otak punya kelamin hehe. (Ini kita bahas dilain waktu saja)
Otak kanan tertawa,” lu jangan terlalu logis, sesekali buatlah yang tidak logis supaya hidupmu berwarna.” Otak kanan mengejek.
Otak kiri sang pemikir ilmiah makin tak mengerti. Namun, sebelum dia sempat berkata, otak kanan lebih dulu bicara.“Bangunlah pada sepertiga malam. Satu jam saja. Lebih? lebih baik asalkan ada kegiatan. Jangan begadang kalau tak ada artinya, itu fatwa dari Bang Haji Roma. Bagi Umat muslim, tahajudlah! Dekati Dia, jemput Rahmat-Nya. Sedang bagi Non Muslim, tentu lebih paham, bagaimana cara mendekati Tuhannya. Namun,disini saya tidak akan membahas bagaimana cara mendekati Tuhan pada sepertiga malam (Jika ingin tahu, boleh undang saya ceramah huaaa...), karena buku ini membahas tentang bagaimana cara untuk menjadi seorang penulis, maka saya akan mengajak Anda merenung pada sepertiga malam itu. Tentang apa alasan yang mengharuskan kita untuk menulis. Dengan kata lain, apa yang ingin Anda capai dari menulis.
Bangkitkan motivasi yang benar-benar kuat. Semakin kuat motivasi, maka semakin mudah mencapai target menjadi seorang penulis sukses. Sebaliknya, semakin tidak jelas/ lemahnya motivasi, maka dapat dipastikan Anda berhenti ditengah jalan sebelum tuntas. Ibarat bercinta, mengklimaks’kan diri sebelum permainan usai. Payah, bukan? He he
Apapun pekerjaan, biasakanlah dengan merenung terlebih dahulu. Memberikan motivasi pada jiwa yang pasti. Apalagi dalam hal menulis. Motivasi sangatlah penting, karena menulis itu bukan bekerja pada sebuah instansi yang sudah pasti hasilnya. Menulis itu menabung. Hasilnya tidak akan serta merta bisa dinikmati, namun yakinlah, suatu saat nanti, tabungan Anda akan dinikmati penuh syukur. Seperti menemukan batangan emas di jalan.
Lantas, apa sih motivasi yang pas agar Anda tetap menulis, tidak cepat putus asa dalam menulis? Nah, ini yang harus Anda cari sendiri. Caranya, tanyalah diri Anda sendiri, apa yang Anda ingin capai dari menulis? Boleh saya menebak apa yang Anda inginkan dalam menulis?
Dan inilah alasan-alasan yang banyak menjadi motivasi seseorang untuk menulis.
1. Ingin memberi manfaat pada orang banyak.
2. Sekedar mengisi waktu luang dengan hal bermanfaat
3. Berdakwah Amal Ma’ruf Nahi Mungkar
Apakah motivasi seperti ini betul? Saya tegaskan itu salaaah! Kenapa? Itu semua bukan motivasi, tapi efek dari menulis. Tanpa Anda niatkan pun sebuah karya tulis pasti berefek sesuatu pada pembaca. Baik dan buruknya, tentunya tergantung apa yang si penulis angkat sebagai tema. Jadi, apa sih sebenarnya alasan paling kuat sebagai motivasi untuk menulis? ... tunggu, saya akan menceritakan pengalaman 2 malam kebelakang.
Ketika itu, salah satu sahabat bertanya, “Kang, biar kita bisa terus menulis, resepnya apaa? Saya hampir putus asa karena naskah tidak pernah di Acc penerbit. Beri saya motivasi..” katanya.
Saya tersenyum. Bukan, bukan saya meledek atau merendahkan si penanya, tapi saya tersenyum karena pernah mengalami hal serupa. Bahkan bisa dipastikan setiap penulis pernah mengalami hal serupa. Ketika itu saya mencoba bertanya kepada beberapa orang teman yang sudah jadi penulis terkenal. Bahkan saya pun membaca buku-buku motivasi, namun saya tetap tidak menemukan kembali motivasi dalam diri. Bukan, bukan berarti motivasi dari teman dan buku itu jelek apalagi salah, tapi terlalu umum. Jawabannya hampir sama, perbanyak membaca-lah, ini lah, itulah. Huuh..bukannya tambah semangat malah membuat saya semakin malas. Akhirnya saya pun hanya diam. Saya lempar lap top pelan-pelan karena takut rusak lalu tidur. Ceritanya gak nyambung’kan! Ha ha ... namanya juga penulis bodoh.
Bangun tidur, saya dikagetkan sms dari salah satu debt colektor motor. Sudah 2 bulan saya tidak membayar angsuran, dan jika bulan ketiga belum bisa membayar juga, maka motor akan disita. (lebih baik berantemlah daripada nyerahin motor hehe)
Saya pun mulai berpikir, darimana bisa mendapat uang segitu banyak dalam waktu satu bulan. Sedangkan (dulu) saya hanya seorang pengamen jalanan tercukupi makan saja alhamdulillah. Dan ketika itulah uang menjadi satu-satunya alasan dalam melakukan semua hal termasuk menulis. Jadi ...
v MenulislahDemi Uang
Ya, jadikan uang sebagai motivasimu. Hari gini gitu loh, siapa yang tak butuh uang. Coba perhatikan di sekitar kita. Apa pun yang orang lakukan pasti ada kaitanya dengan uang. Munafik jika ada yang mengatakan menulis sekedar hobi atau dengan tujuan memberi pencerahan pada pembaca, tapi ngedumel ketika ada orang meminta bukunya gratis. Apalagi sampai posting status di Facebook, “Tolong hargai penulis, menulis itu bukan hal mudah, perlu kerja keras dan pengorbanan hingga buku berhasil terbit. Dan sekarang minta gratis! Terlalu” kata Bang Roma, toeett.. kira-kira seperti itulah status yang dia posting.
Saya tertawa ... Ha ha ..., kalau alasan menulis semata hobi, tentu pengorbanan waktu dan uang justru malah dinikmati. Jika menulis untuk semata memberi manfaat, harusnya bahagia jika ada yang meminta gratis bukunya karena nilai manfaatnya berlipat. Jadi tak salahkan jika saya bilang munafik, karena ciri-ciri orang munafik itu salah satunya berdusta, dan dia telah mendustai dirinya sendiri, bahkan orang banyak dengan mengatakan menulis sekedar hobi dan ingin memberi manfaat.
Menulislah untuk mendapatkan uang, kalau bisa sebanyak-banyaknya. Semakin berkeinginan untuk mendapatkan uang, maka semakin kuat usaha Anda. Begitu juga dengan menulis, semakin ingin naskah di Acc dan terbit lantas mendapat uang, maka, Anda tak’kan pernah kapok untuk terus menulis dan menulis. Membaca dan belajar hingga selesailah semangat.
“Ah, tujuan saya menulis hanya ingin bermanfaat untuk sesama. Sebagai media dakwah. Mengajak pembaca pada jalan tol :D ” Kata seorang teman.
La, emangnya uang tidak bermanfaat? Ini saja saya nulis sambil ngopi dan merokok, tentu saja di beli pake uang. Dan, Bukankah :
Kurang manfaat apa uang? Mikir...
“Tapi kan tidak semua orang yang punya duit mau membantu sesama, Kang?” debat seorang Ustad.
Belum apa-apa udah su’udzon, atau memang Anda yang seperti itu? Ufss sory ...hehe, atau begini saja, manfaatkanlah uang untuk diri sendiri. Tidak salah bukan? Bukaaannn....
Nah, sampai di sini bagaimana? Apa sudah punya keinginan kuat untuk mendapatkan uang? Uang memang tidak menjamin kebahagiaan, tapi uang bisa menunjang kebahagiaan. Berbagi memang tidak harus dengan uang, tapi ada hal-hal tertentu di mana uang sangat berati dari apa-pun, dan ingat! mereka yang lapar, tidak butuh nasehat, mereka butuh makan, sedangkan makanan dibeli dengan uang. Belum pernah saya dengar warteg menerima nasehat atau dakwah sebagai alat tukar dengan nasi dan tempe orek.
Masih belum mau termotivasi oleh uang? Okeh okeh (Pasang muka seriosa), saya beri satu contoh lagi pengalaman pribadi saya.
“Suatu hari, ketika mengamen di jalanan Kota Bandung, saya melihat dua orang sahabat. Sebutlah namanya Abu dan Damar. Si Abu, terlihat Agamis dengan pakaian serba putih. Sedang Si Damar terlihat urakan, namun terlihat banyak duit. Itu terlihat dari pakaiannya yang serba keren dan mahal. Dan saya terlihat seperti gembel dengan ukulele dan wajah kere. Hehe. (baee)
Mereka menghampiri seorang anak yang sedang menangis sambil memeluk adiknya di pinggir jalan. Bukan cuma mereka, tapi saya pun menghampiri. Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sama anak itu.
“Kenapa Dik?” tanya Si Abu penuh kasih. Sedang si Damar tak berkata sedikit pun. Ia hanya memAndang bocah itu tajam.
Si bocah berkata, adiknya sakit. dan mereka sejak pagi belum makan. Jualannya belum laku satu pun. Mendengar itu, kami semua iba.
Kemudian si Abu berkata,” Sabar ya, Dik. Hidup memang penuh luka dan air mata. Susah senang silih berganti. Tak ada yang abadi,” katanya bijak.
Namun apa jawaban si Bocah?” Sabar? untuk mereka yang sehari-hari hidup enak mungkin bisa berkata sabar ketika satu hari mereka tidak punya uang untuk beli makanan. Tapi, bagi kami yang setiap hari kelaparan, apakah pantas kata’Sabar’ di nasehatkan kepada kami? Sudah sejak dulu saya sabar...” Namun sebelum sempat si Bocah melanjutkan kata-katanya, si Damar mendahului dengan mengulurkan tangan kepada si bocah, memberikan beberapa lembar uang dua puluh ribuan.
Si Bocah langsung tersenyum seraya mengucap terima kasih,”Alhamdulillah..hari ini dan besok, kita tidak akan kuatir kelaparan lagi, Dik. Uang ini cukup hingga besok. Terima kasih, Mas,” katanya.
Si Damar tersenyum. Si Abu terbungkam. Merasa kata-kata bijaknya tak bermakna.”
***
Nah, apa hikmah yang dapat diambil dari cerita atas?
Mari kita menulis demi UANG supaya tak hanya bisa bicara tentang kebaikan, melainkan kita bisa mengamalkan kebaikan tersebut. Hentikan semua kata-kata berbusa tentang kebaikan jika tanpa tindakan nyata.
Bagaimana, sampai di sini motivasi menulis Anda sudah bangkit?
Masih belum? Ckckck ... saya salut!Anda tidak termotivasi dengan uang. Tapi belum tentu ikhlas, sebab mungkin saja termotivasi dengan ini, apa itu? Tunggu, saya mau belajar dulu hehe.
*Gambar dari Seriusgasih.blogspot.com
Sebelum Kompeni numpang mandi di PT NKRI, sudah ada yang menjawab. Sudah pasti otak kanan, karena hanya dialah yangg selalu mengejek pola pikir otak kiri. “Karena motivasi adalah modal awal sebagai penentu bisa bertahan atau tidak dalam melakukan suatu hal. Tanpa motivasi yang jelas dan kuat, maka jangan heran jika cendrung kalah sebelum mencapai tujuan,” jawabnyatanpa pikir.
Otak kiri kembali bertanya, ” Lalu bagaimana caranya membangkitkan motivasi dan apa yang layak dijadikan motivasi dalam menulis?” tanya otak kiri sambil ngemil serpihan huruf dari sebuah buku karya seorang penulis terkenal luar negeri.
“Gampang!” Otak kanan bicara cepat. Otak kiri mengerutkan kening (jangan bayangkan otak punya kening ya karena Anda pun harus membayangkan otak punya kelamin hehe. (Ini kita bahas dilain waktu saja)
Otak kanan tertawa,” lu jangan terlalu logis, sesekali buatlah yang tidak logis supaya hidupmu berwarna.” Otak kanan mengejek.
Otak kiri sang pemikir ilmiah makin tak mengerti. Namun, sebelum dia sempat berkata, otak kanan lebih dulu bicara.“Bangunlah pada sepertiga malam. Satu jam saja. Lebih? lebih baik asalkan ada kegiatan. Jangan begadang kalau tak ada artinya, itu fatwa dari Bang Haji Roma. Bagi Umat muslim, tahajudlah! Dekati Dia, jemput Rahmat-Nya. Sedang bagi Non Muslim, tentu lebih paham, bagaimana cara mendekati Tuhannya. Namun,disini saya tidak akan membahas bagaimana cara mendekati Tuhan pada sepertiga malam (Jika ingin tahu, boleh undang saya ceramah huaaa...), karena buku ini membahas tentang bagaimana cara untuk menjadi seorang penulis, maka saya akan mengajak Anda merenung pada sepertiga malam itu. Tentang apa alasan yang mengharuskan kita untuk menulis. Dengan kata lain, apa yang ingin Anda capai dari menulis.
Bangkitkan motivasi yang benar-benar kuat. Semakin kuat motivasi, maka semakin mudah mencapai target menjadi seorang penulis sukses. Sebaliknya, semakin tidak jelas/ lemahnya motivasi, maka dapat dipastikan Anda berhenti ditengah jalan sebelum tuntas. Ibarat bercinta, mengklimaks’kan diri sebelum permainan usai. Payah, bukan? He he
Apapun pekerjaan, biasakanlah dengan merenung terlebih dahulu. Memberikan motivasi pada jiwa yang pasti. Apalagi dalam hal menulis. Motivasi sangatlah penting, karena menulis itu bukan bekerja pada sebuah instansi yang sudah pasti hasilnya. Menulis itu menabung. Hasilnya tidak akan serta merta bisa dinikmati, namun yakinlah, suatu saat nanti, tabungan Anda akan dinikmati penuh syukur. Seperti menemukan batangan emas di jalan.
Lantas, apa sih motivasi yang pas agar Anda tetap menulis, tidak cepat putus asa dalam menulis? Nah, ini yang harus Anda cari sendiri. Caranya, tanyalah diri Anda sendiri, apa yang Anda ingin capai dari menulis? Boleh saya menebak apa yang Anda inginkan dalam menulis?
Dan inilah alasan-alasan yang banyak menjadi motivasi seseorang untuk menulis.
1. Ingin memberi manfaat pada orang banyak.
2. Sekedar mengisi waktu luang dengan hal bermanfaat
3. Berdakwah Amal Ma’ruf Nahi Mungkar
Apakah motivasi seperti ini betul? Saya tegaskan itu salaaah! Kenapa? Itu semua bukan motivasi, tapi efek dari menulis. Tanpa Anda niatkan pun sebuah karya tulis pasti berefek sesuatu pada pembaca. Baik dan buruknya, tentunya tergantung apa yang si penulis angkat sebagai tema. Jadi, apa sih sebenarnya alasan paling kuat sebagai motivasi untuk menulis? ... tunggu, saya akan menceritakan pengalaman 2 malam kebelakang.
Ketika itu, salah satu sahabat bertanya, “Kang, biar kita bisa terus menulis, resepnya apaa? Saya hampir putus asa karena naskah tidak pernah di Acc penerbit. Beri saya motivasi..” katanya.
Saya tersenyum. Bukan, bukan saya meledek atau merendahkan si penanya, tapi saya tersenyum karena pernah mengalami hal serupa. Bahkan bisa dipastikan setiap penulis pernah mengalami hal serupa. Ketika itu saya mencoba bertanya kepada beberapa orang teman yang sudah jadi penulis terkenal. Bahkan saya pun membaca buku-buku motivasi, namun saya tetap tidak menemukan kembali motivasi dalam diri. Bukan, bukan berarti motivasi dari teman dan buku itu jelek apalagi salah, tapi terlalu umum. Jawabannya hampir sama, perbanyak membaca-lah, ini lah, itulah. Huuh..bukannya tambah semangat malah membuat saya semakin malas. Akhirnya saya pun hanya diam. Saya lempar lap top pelan-pelan karena takut rusak lalu tidur. Ceritanya gak nyambung’kan! Ha ha ... namanya juga penulis bodoh.
Bangun tidur, saya dikagetkan sms dari salah satu debt colektor motor. Sudah 2 bulan saya tidak membayar angsuran, dan jika bulan ketiga belum bisa membayar juga, maka motor akan disita. (lebih baik berantemlah daripada nyerahin motor hehe)
Saya pun mulai berpikir, darimana bisa mendapat uang segitu banyak dalam waktu satu bulan. Sedangkan (dulu) saya hanya seorang pengamen jalanan tercukupi makan saja alhamdulillah. Dan ketika itulah uang menjadi satu-satunya alasan dalam melakukan semua hal termasuk menulis. Jadi ...
v MenulislahDemi Uang
Ya, jadikan uang sebagai motivasimu. Hari gini gitu loh, siapa yang tak butuh uang. Coba perhatikan di sekitar kita. Apa pun yang orang lakukan pasti ada kaitanya dengan uang. Munafik jika ada yang mengatakan menulis sekedar hobi atau dengan tujuan memberi pencerahan pada pembaca, tapi ngedumel ketika ada orang meminta bukunya gratis. Apalagi sampai posting status di Facebook, “Tolong hargai penulis, menulis itu bukan hal mudah, perlu kerja keras dan pengorbanan hingga buku berhasil terbit. Dan sekarang minta gratis! Terlalu” kata Bang Roma, toeett.. kira-kira seperti itulah status yang dia posting.
Saya tertawa ... Ha ha ..., kalau alasan menulis semata hobi, tentu pengorbanan waktu dan uang justru malah dinikmati. Jika menulis untuk semata memberi manfaat, harusnya bahagia jika ada yang meminta gratis bukunya karena nilai manfaatnya berlipat. Jadi tak salahkan jika saya bilang munafik, karena ciri-ciri orang munafik itu salah satunya berdusta, dan dia telah mendustai dirinya sendiri, bahkan orang banyak dengan mengatakan menulis sekedar hobi dan ingin memberi manfaat.
Menulislah untuk mendapatkan uang, kalau bisa sebanyak-banyaknya. Semakin berkeinginan untuk mendapatkan uang, maka semakin kuat usaha Anda. Begitu juga dengan menulis, semakin ingin naskah di Acc dan terbit lantas mendapat uang, maka, Anda tak’kan pernah kapok untuk terus menulis dan menulis. Membaca dan belajar hingga selesailah semangat.
“Ah, tujuan saya menulis hanya ingin bermanfaat untuk sesama. Sebagai media dakwah. Mengajak pembaca pada jalan tol :D ” Kata seorang teman.
La, emangnya uang tidak bermanfaat? Ini saja saya nulis sambil ngopi dan merokok, tentu saja di beli pake uang. Dan, Bukankah :
- Dengan uang kita bisa memberi makan orang yang kelaparan.
- Dengan uang kita bisa membantu biaya berobat orang yang sakit
- Dengan uang kita bisa membantu orang tua.
- Dengan uang kita bisa menafkahi anak istri
- Dll.
Kurang manfaat apa uang? Mikir...
“Tapi kan tidak semua orang yang punya duit mau membantu sesama, Kang?” debat seorang Ustad.
Belum apa-apa udah su’udzon, atau memang Anda yang seperti itu? Ufss sory ...hehe, atau begini saja, manfaatkanlah uang untuk diri sendiri. Tidak salah bukan? Bukaaannn....
Nah, sampai di sini bagaimana? Apa sudah punya keinginan kuat untuk mendapatkan uang? Uang memang tidak menjamin kebahagiaan, tapi uang bisa menunjang kebahagiaan. Berbagi memang tidak harus dengan uang, tapi ada hal-hal tertentu di mana uang sangat berati dari apa-pun, dan ingat! mereka yang lapar, tidak butuh nasehat, mereka butuh makan, sedangkan makanan dibeli dengan uang. Belum pernah saya dengar warteg menerima nasehat atau dakwah sebagai alat tukar dengan nasi dan tempe orek.
Masih belum mau termotivasi oleh uang? Okeh okeh (Pasang muka seriosa), saya beri satu contoh lagi pengalaman pribadi saya.
“Suatu hari, ketika mengamen di jalanan Kota Bandung, saya melihat dua orang sahabat. Sebutlah namanya Abu dan Damar. Si Abu, terlihat Agamis dengan pakaian serba putih. Sedang Si Damar terlihat urakan, namun terlihat banyak duit. Itu terlihat dari pakaiannya yang serba keren dan mahal. Dan saya terlihat seperti gembel dengan ukulele dan wajah kere. Hehe. (baee)
Mereka menghampiri seorang anak yang sedang menangis sambil memeluk adiknya di pinggir jalan. Bukan cuma mereka, tapi saya pun menghampiri. Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sama anak itu.
“Kenapa Dik?” tanya Si Abu penuh kasih. Sedang si Damar tak berkata sedikit pun. Ia hanya memAndang bocah itu tajam.
Si bocah berkata, adiknya sakit. dan mereka sejak pagi belum makan. Jualannya belum laku satu pun. Mendengar itu, kami semua iba.
Kemudian si Abu berkata,” Sabar ya, Dik. Hidup memang penuh luka dan air mata. Susah senang silih berganti. Tak ada yang abadi,” katanya bijak.
Namun apa jawaban si Bocah?” Sabar? untuk mereka yang sehari-hari hidup enak mungkin bisa berkata sabar ketika satu hari mereka tidak punya uang untuk beli makanan. Tapi, bagi kami yang setiap hari kelaparan, apakah pantas kata’Sabar’ di nasehatkan kepada kami? Sudah sejak dulu saya sabar...” Namun sebelum sempat si Bocah melanjutkan kata-katanya, si Damar mendahului dengan mengulurkan tangan kepada si bocah, memberikan beberapa lembar uang dua puluh ribuan.
Si Bocah langsung tersenyum seraya mengucap terima kasih,”Alhamdulillah..hari ini dan besok, kita tidak akan kuatir kelaparan lagi, Dik. Uang ini cukup hingga besok. Terima kasih, Mas,” katanya.
Si Damar tersenyum. Si Abu terbungkam. Merasa kata-kata bijaknya tak bermakna.”
***
Nah, apa hikmah yang dapat diambil dari cerita atas?
Mari kita menulis demi UANG supaya tak hanya bisa bicara tentang kebaikan, melainkan kita bisa mengamalkan kebaikan tersebut. Hentikan semua kata-kata berbusa tentang kebaikan jika tanpa tindakan nyata.
Bagaimana, sampai di sini motivasi menulis Anda sudah bangkit?
Masih belum? Ckckck ... saya salut!Anda tidak termotivasi dengan uang. Tapi belum tentu ikhlas, sebab mungkin saja termotivasi dengan ini, apa itu? Tunggu, saya mau belajar dulu hehe.
*Gambar dari Seriusgasih.blogspot.com

Comments
Post a Comment